Akhir-akhir
ini, ada cerita seorang gadis berpayung merah. Kata orang-orang, saat menjelang
tengah malam, gadis itu sering ditemukan berdiri di persimpangan jalan.
Meskipun gadis
itu tidak membahayakan dan menjatuhkan korban. Desas-desus itu, telah membuat
orang-orang ketakutan sepanjang malam. Setiap kali ingin pergi dari rumah,
selalu diingatkan untuk berhati-hati. Setiap seorang pulang yang entah dari
mana, orang yang lain menanyakan, apakah tadi sewaktu di jalan melihat gadis
itu apa tidak. Orang tua sering mengingatkan anaknya untuk tidak pulang dan bermalam saja
di tempat kerjanya, atau rumah temannya. Menjelang malam, warung-warung sudah
mulai sepi karena orang-orang bersembunyi. Dan tukang warungpun ingin
cepat-cepat pulang memastikan diri.
Tadi siangpun,
bapak-bapak pos ronda bercerita tentang gadis itu. Kata Mang Maman, gadis itu
bukan hanya berada di satu tempat. Katanya, pernah ia berdiri di pinggir jalan
menuju ke rumahnya. Sesekali dia melihat berdiri di jalan simpang tiga lampu
merah, jalan menuju balai, menuju masjid dan di depan jalan Kamboja, depan PUD,
Pemakaman Umum Desa.
Aryopun,
tetanggaku pernah melihat. Dari kejauhan
seusai ia pulang kerja. Katanya, gadis itu mengenakan payung merah besar.
Rambutnya terurai sedahi. Dan mendekap bahunya seperti sedang kedinginan. Kadang
dia menoleh kanan dan kiri. Seperti mencari tumpangan. Wajahnya samar. Dan
kakinya tidak mengenakan alas apapun. Akhirnya Aryo tidak melewati jalan itu,
dia memilih memutar balik.
Bu Meneh,
tukang pijat keliling yang biasanya memijat pelanggannya di waktu malam, akhirnya
mengganti ke waktu sore seusai warung nasinya ditutup. Dan Bu Meneh hanya
berjualan di waktu siang saja. Pernah katanya, malam-malam sekitar jam sepuluh,
tiba-tiba ada delman yang kuda-kudanya berbaju emas sedang lewat depan warungnya.
Dituntun rasa penasaran, dia keluar dan memerhatikan delman pelan itu. Delman
itu berhenti di depan pohon masam tidak jauh dari sana. Lalu turunlah seorang gadis tanpa alas kaki.
Setelah delman itu pergi, gadis itu membuka payung. Dan payungnya berwarna
merah besar. Sejak saat itulah Bu Meneh tidak berani berjualan malam hari.
Bu Meneh
inilah yang kemudian bercerita kepada setiap orang-orang. Dia bercerita setiap
kali memijat pelanggannya. Dari satu rumah ke rumah yang lain. Satu hari bisa memijat enam ke tujuh orang. Hingga berita gadis itu, selain semakin jelas, juga semakin massif. Gadis
itu, kata Bu Meneh, adalah kiriman dari dunia lain. Dia kesini mengendarai delman yang kudanya berbaju emas. Berhenti di
depan pohon masam, turun lalu membuka payungnya. Tiba-tiba delman itu
menghilang. “Pokoknya mengerikan sekali non! Saya lebih baik tutup warung saja,
dari pada dihantui gadis berpayung-payung itu setiap malam” Dia bercurhat, sembari mengurut
urat-urat dan mengencangkan kulit-kulit kaki-tangan pelanggannya. Selain keahlian
memijit, di antara sifat yang orang-orang suka, Bu Meneh selalu jujur bertutur
kata.
Hingga
akhirnya, telah berbulan-bulan, bertahun lamanya. Cerita gadis itu tetap
melekat di benak orang-orang. Sebenarnya, meskipun tidak dituturkan, pastilah
siapapun tahu, bahwa setiap malam, entah di jalan bagian mana, sosok gadis
misterius itu pasti turun dari delman dan membuka payung merahnya. Seperti yang orang-orang katakan saat aku mendengarnya dulu. Hingga mungkin orang-orang
menganggapnya hal ini biasa. Sejak saat itulah, orang-orang menutup
jendela dan mematikan televisinya lebih awal. Malam selalu menjadi kesepian. Membiarkannya
begitu singkat. Dan orang-orang pura-pura melupakannya.
***
Suatu saat,
setelah aku selesai mengantarkan sayuran ke pasar yang biasa kulakukan setiap suhuh, aku
menemukan seorang nenek-nenek tua, berjalan membawa tas besar yang digendong,
dan termos melewati jalan sendirian. Kasihan sekali dia. Aku berhenti. Meminggirkan motor.
“Nenek
ingin kemana, biar saya antar”.
“Saya ingin
mengirim ini ke anakku” nenek ini menunjukkan termosnya.
“kemana nek”
Lalu nenek
ini menunjuk warung Bu Meneh yang masih ditutup
“Warung Bu
Meneh, Nek?”
“Iya. Tempat
anakku mati diperkosa suaminya!” Sembari nenek itu mengeluarkan payung merah dari
tasnya.
Kantor
Kabar Madura, 28 Januari 2020

2 Comments