Seorang penipu yang beruntung akan tertawa setiap kali
melihat mangsanya tak menyadari bahwa ia telah ditipu. Bahkan seorang penipu
jauh lebih mahir meyakinkan apakah sesuatu itu benar atau salah, apakah sesuatu
dapat dipercaya atau tidak. Meskipun kadang keberuntungan tidak selalu diperoleh
oleh siapapun, termasuk tukang tipu sekalipun.
Semasa kanak-kanak, teringat cerita ibu saya mengenai
berbahayanya menipu. Ia bercerita bahwa di negara yang baik-baik saja nan jauh sana,
orang-orang yang menipu akan dipotong tangannya, menipu lagi dipotong tangan
satunya, menipu lagi dipotong kakinya dan masih menipu lagi baru kaki satunya,
hingga ia cacat tak bertangan dan tak berkaki.
Lalu saya teringat, apakah benar, seorang yang hidup di
pinggir jalan, tidur di terotoar dan hanya menyediakan kaleng susu untuk
memeroleh receh, tanpa tangan dan kaki adalah bekas penipu? Lalu karena mereka
selama menipu tidak beruntung dan memutuskan untuk bar-bar di pinggir
jalan? Bagaimana mereka menikmati receh yang mereka peroleh padahal mereka
tidak mempunyai tangan untuk menggenggamnya. Apalah guna. Semenjak itulah, untuk
mendapatkan receh yang besar dan afdol, tentu dengan tangan dan kaki yang utuh,
maka diperlukan trik menipu supaya lebih beruntung.
Ibu saya tidak pernah memberi tahu bahwa penipupun memiliki
keberuntungan. Dia hanya bercerita tentang nasib seorang penipu yang tertangkap
tapi menyembunyikan penjelasan bahwa tidak semua penipu bisa diketahui. Oh jangan-jangan ibu sedang menipu saya?
jika benar, berarti ibu juga sedang tertipu, karena sebenarnya saya tahu bahwa
ada keberuntungan yang sengaja tidak diceritakan. Menipu seorang penipu juga
salah satu pencapaian yang menyenangkan.
Enam tahun lalu, saya masih ingat, seorang kolega
dipenjara 12 tahun karena korupsi dana haji. Tetapi tangannya tidak dipotong
seperti cerita ibu saya, kakinyapun masih utuh. Ia menipu rakyat di jalan
agama. Memang, bagi penipu pemula bahkan penipu yang sudah seniorpun, agama
paling pas untuk dijadikan alibi. Dan di dalam agama, yang tertipu bukan hanya
manusia, Tuhanpun menjadi korban.
Sayangnya si kolega ini tidak beruntung. Ibarat undian
pasar malam, ia sedang berada di titik sial, karena bisa jadi di pasar
malam-pasar malam sebelumnya ia beruntung terus dan jauh lebih beruntung dari
pada yang lain. Lalu ia ketagihan hingga lupa bahwa ada norma dimana tidak setiap orang selalu beruntung, termasuk gelar penipu sekalipun.
Di negeri ini, keberuntungan dan ketidakbertunungan justru
tidak diganjar dengan potong tangan dan kaki. Orang-orang di negeri ini percaya
bahwa penjara adalah cara untuk menghentikan tukang penipu menjadi tukang jujur,
padahal tidak. Yang masih beranggapan seperti itu, berarti ia belum tahu bahwa penjara hanyalah tempat ketidakberuntungan saja. Penjara hanya bagian dari mengumpulkan penipu-penipu yang
kurang beruntung, dan penipu yang beruntung tentu lebih banyak luar sana, sangat banyak
dan tidak ada yang paling banyak dari yang lain.
Kolega itu dengan raut wajah yang berusaha ceria,
pelipis matanya menunjukkan bahwa ia sedang berada di titik paling tidak
beruntung. Setiap anggukannya menggambarkan bahwa ia harus belajar lebih lagi,
bagaimana menipu secara lebih professional lagi, bagaimana nanti ia bisa mengulang
keberuntungan seperti sebelum-sebelumnya terjadi. Sehingga penjara baginya, bukan
tempat menjadi tukang jujur, melainkan tempat untuk mencari pola, mempelajari tehnik,
alibi dalam meningkatkan keberuntungan ilmu perpenipuan.
Ketika kolega itu terpampang di tivi, ibu saya
menasehati ulang, “itu ganjaran penipu rakyat, nak!, kau kau sebagai dewan rakyat harus hati-hati” ibu
saya berbicara sambil menunduk khawatir tenunan kainnya meleset dan meninggalkan satu titik darah di jari tengahnya yang indah.
Tak habis pikir memang. Seorang yang sudah digaji
negara berpuluhan bahkan beratusan juta, juga masih saja gemar menipu rakyat
kecil-kecil. Atau jangan-jangan memang bukan uang tujuan penipu lahir ke bumi. Mereka senang
saja. Ada gairah yang tidak ditemukan di profesi lain. Ada perasaan senang ketika seorang penipu baik dalam level apapun,
berhasil melancarkan jurusnya, lalu orang-orang tidak menyadari itu, dan
menganggap aman-aman saja. Itulah puncak kepuasan seorang penipu. Dan membuatnya ingin melakukan berulang kali. Ditubuhnya mahluk iblis merasukinya lalu tertawa lebar di depan cermin
sendirian. Bahkan wajahnya sendiri terlihat seperti menipu dirinya sendiri.
Setelah dua setengah jam dari toilet pribadinya, tamu-tamu diluar dibiarkan menunggu tetap membawa map untuk sebuah tanda tangan, lalu saya menanyakan wajah yang ada di cermin itu "Hei bung! sudah siap menipu?" lalu saya keluar menemui mereka.
***

1 Comments