Malam merangkai kita menjadi susunan sebuah puisi. Di malam yang sunyi, hanya anyiran dan nyinyiran pepohonan. Melambaikan dahan-dahan nestapa, ringkih dan tak beraturan. Meskipun begitu, susunan itu tetap berdiri, walau ia tak berpijak pada tanah sejengkalpun.

Ketika dunia tak lagi dipenuhi oleh mitos hantu genderuwo, atau hantu pengambil mayit, maka tak ada lagi obor atau kentungan yang menghiasi sudut-sudut rumah. Tak ada lagi, senter yang dibawa oleh kekasih baru mencari ladang atau bekas cangkulan padi untuk bercinta. Tak ada lagi, malam dan puisinya, juga tak ada lagi kesunyian dan konteplasinya.

Dunia yang berwajah layar. Kini terbang bersama telinga dan mulut yang mampu meluluhlantahkan manusia menjadi penyair atau bahkan penyinyir ulung. Terkurung di bawah jeruji atau terbang melampaui Antariksa. Bagaikan plastik yang terpendam di dasar tanah atau plastik yang tertiup jauh. Ia yang tak terurai, hingga menjadi ‘tren’ majalah dan koran-koran. Wahai kau dunia, yang berwajah digital.

Saat kecil, laron-laron terbang mencari sumber cahaya. Ia menanggalkan sayapnya satu persatu demi cahaya itu. Hingga akhirnya gundul tak bersayan dan berjejer-jejer di lantai.
Lalu mereka kembali ke tanah, kembali ke kelahirannya dan tak bangkit lagi, Setelah tanah dan langit kini menjadi aspal dan beton cantik. Lalu mereka berteman dengan puisi di bawah tanah dan di sela-sela malam yang gurindam.

Setelah semuanya berakhir sia-sia, bau tubuhmu semakit kuat kurindu. Saat kehidupan berwajah baru ini menyulap dunia menjadi sejengkal layar tanpa apa-apa.

Kantor Kabar Madura, 08 Agustus 2019