Aku hidup di tengah huruf-huruf yang membentang panjang. Yang semakin mengecil setelah kau buka-tutup buku itu sembari mengistirahatkan tubuhmu di pertengahan malam. Lalu kau terbangun, tepat di pergantian tanggal, di saat bulan memerhatikan kesunyian. Tiba-tiba kau bangun mencariku, mencarinya di antara tumpukan buku.

Setelah kau membuka mata diantara mata-mata yang tertutup, lalu cahaya bulan hanya memperhatikanmu seorang. Ia mendengar betul sesuatu yang meski itu tak terucap. Kau tak pernah sadar akan perhatian bahagia itu. Bahwa bulan telah sumringah, akibat air wudhu dan belekmu. Di dalam pikiranmu, hanya sibuk mencari aku dimana, membidik di tengah-pinggir-ujung huruf-huruf di sana.

Kubersembunyi di balik judul, lalu kau dapati bau tubuhku. Aku pindah ke paragraf utama, dengan ide-ide segar dan kalimat manja. Lalu kau menemukanku kembali disana. Aku pindah di antara klimaks-klimaks yang sedih dan mengenakkan. Namun kau berhasil menemukanku kembali tepat sebelum orgasme terjadi. Hingga kemudian kita sama-sama tertawa, bahkan di tengah rumitnya kehidupan, yang ia dijelaskan oleh barisan huruf-huruf mati.

Aku tetap memilih hidup di antara huruf-huruf walau ia mati, di antara triliunan orang, yang hanya kamu seorang yang mencariku. Orang lain memilih menutup mata, terpejam meninggalkanku sebatang kara. Setelah kau datang bersama bau anyirmu, kesendirianku pelan-pelan terangkat, di malam itu, bulan mempertemukan aku dan kamu.

Betapapun indahnya dunia ini, tetap terasa buram jika, bentangan huruf-huruf ditinggalkan. Bersama huruf, kita bisa tertawa, tersenyum, murka dan bahkan menderita. Huruf melahirkan makna. Ia ada untuk menjawab dan menyoal kita. Huruf-huruf itu tidak pernah mati, bahkan di saat kematian mahluk yang lain. Karena huruf selalu ada, dan ia melahirkan aku.

Kantor Kabar Madura, 10 Agustus 2019