Pernahkah kalian memperhatikan bagaimana para petani
menggunakan sapi sebagai alat untuk membajak sawah? Atau kerbau bagi orang Jawa?
Atau yang lebih baru, yakni traktor sebagai hasil modernisasi?. Tentu pernah. Begitupun
saya. Saya sering melihat peristiwa itu di persawahan ketika musim padi
berlangsung. Saya lebih tertarik melihat sapi ketimbang alat-alat yang lain. Saat
saya masih kecil, saya sering ikut kakek mencari rumput dan membawakannya
kepada sapi-sapi yang ia punya.
Sapi adalah hewan paling berharga bagi orang Madura, apalagi
Madura pedesaan. Sapi menjadi kebutuhan sebagai asistent
petani di sawah. Orang Madura sebagai masyarakat agraris, menjadikan sapi sebagai
kebutuhan utama. Jika tidak, para petani kemungkinan terlambat panen daripada petani lain yang
mempekerjakan sapinya. Di sudut-sudut rumah orang desa, kandang sapi berada di
belakang rumah, bersembunyi di balik dapur atau bahkan di lepas di halaman
rumput hijau yang luas.
Saya tertarik untuk memperluas bahasan binatang Vegetaian ini menjadi
sesuatu yang lebih berarti. Bagi saya, sapi bukan lagi sebagai objek yang
hanya digunakan oleh masyarakat Madura sebagai pendamping bertani saja. Namun ia
sebenarnya merupakan simbol loyalitas kebudayaan yang ada di Madura. Sebagai
sebuah simbol, orang Madura menjadikan hewan pamakan rumbut ini sebagai icon dan menjadi anatomi kampung halaman rumah-rumah orang Madura.
Berbicara mengenai simbol loyalitas, hal itu berhubungan
dengan simbol kebudayaan. Masing-masing kebudayaan memiliki simbol. Baik itu
logo, pakaian, nyanyian atau bahkan adat dan bahasa. Salah satu contohnya
adalah bangsa Arab, khususnya di zaman dulu. Mereka menjadikan kuda sebagai simbol
loyalitas kebudayaan mereka. Mereka memelihara kuda-kuda sebagai icon untuk memenuhi kebutuhan perang. Kuda
mereka pakai untuk kebutuhan perang dan transportasi. Secara prinsip, kuda dan sapi sama-sama menjadi kebutuhan suatu masyarakat, yang kebutuhannya tidak sama.
Modernisasi telah menggeser icon-icon menjadi lebih praktis. Sapi sebagai alat kebutuhan
agraris pun sudah mulai hilang. Mereka digantikan dengan mesin, seperti
kontraktor. Akan tetapi, saya masih saja melihat sapi sebagai simbol loyalitas yang
secara emosional melekat di dalam kumpulan-kumpulan orang Madura. Misalnya, supporter bola Madura United beserta
jajaran fans yang lain, menjadikan sapi atau kepala sapi sebagai icon logo atau lambang. Lihat saja,
bahkan tidak jarang ada orang yang menggunakan masker bertanduk sekecil
tanduk-tanduk sapi betina. Ya, Sakalipun mereka tidak tau mengenai istilah “simbol
loyalitas kebudayaan”, tapi secara tidak langsung, mereka telah menerapkannya.
Simbol loyalitas adalah arti kesetiaan. Waktu saya kecil,
nenek saya memelihara kucing jantan. Dia adalah Pussy. Kucing cokelat polos yang
sedikit gemuk dan angkuh. Dia sangat setia kepada nenek saya. Dia sangat bisa mengenali
siapa pemiliknya dan siapa yang harus dijauhi. Ia bisa sangat penurut kepada
apapun yang nenek saya inginkan, seperti berburu tikus, jangan berak sembarangan
dan lain semacamnya. Bahkan, dia selalu menjaga dengan cara mengikuti nenek dan
menunggunya di depan pintu saat nenek ke kamar mandi malam-malam. Arti loyalitas atau kesetiaan.
Nenek dan kucingnya adalah simbol loyalitas. Namun, ia tidak
bisa disebut loyalitas kebudayaan karena tidak semua kucing dipelihara oleh
orang-orang di masyarakat itu, atau bahkan sedikit sekali orang yang suka memelihara kucing
karena suka mencuri ikan. Mengapa bisa sedekat itu, antara nenek dan kucingnya.
Jawabannya adalah karena si nenek merawat, memberinya makan, memandikan, dan
bahkan memberinya sebuah nama.
Ikatan itu pada dasarnya ada pada siapa saja, seperti sapi
dan pemiliknya, kuda dan pemiliknya, kerbau dan pemiliknya, merpati dan pemiliknya, prajurit dan rajanya, anak dan kedua orang
tuanya, murid dan gurunya, militer dan komandannya atau bahkan hamba kepada Tuhannya. Jika orang-orang bisa mengenali siapa yang merawatnya, ia akan bisa mengabdi dan menemukan arti loyalitas dalam hidupnya.
Insomnia, 20 Februari 2019

5 Comments
#saran saya sebelum di post sebaiknya di koreksi terlebih dahulu, saya lihat ada kata yg salah
#saran saya sebelum di post sebaiknya di koreksi terlebih dahulu, saya lihat ada kata yg salah
akan saya koreksi lagi kedepannya termasuk kata-kata nya :)