Kemarin - Saya melihat-lihat sebentar, sepasang kakek-nenek selonjoran di bawah atap gubuk kecil. Saya mendapatkan sapaan hangat sekali. Mereka bertanya apapun dengan sedikit cerewet. Itu bentuk keramahan dan cara mereka menggali kedekatan dengan orang baru. Mereka tertawa sembari memberikan nasehat dan saran: itulah orang Madura.
Setelah bertemu mereka, saya rasa, orang yang benar-benar Madura, mulai menghilang. Dan mungkin perlu membentuk tim ekspedisi untuk mencarinya. Saking punah dan begitu berharga. Penampilan dan gaya hidup orang-orang persis seperti di Jakarta, Barat dan bahkan Korea. Yang benar-benar Madura di tanah Madura, malah jarang.
Tapi untung, kakek nenek yang barusan, benar-benar Madura. Bukan karena mereka tidak bermain mobile legend atau tidak tau lirik lagu K-Pop tertentu. Tapi karena senyuman lebar dan bentuk interaksinya yang penuh dengan kehangatan.
Akhirnya saya jadi lebih suka berada disekeliling mereka. Mendapatkan suguhan makanan alam, seperti singkong dan minuman air kelapa. Sambil sesekali bercerita sejarah ketika Jepang membanjiri tanah dengan senjata. Tersenyumpun campur sedih.
Terus si kakek ini cerita, katanya orang Madura pantang sekali menyerah. Ketika penjajah membawa senjata, orang Madura bersembunyi di bawah sumur berhari-hari. Katanya gelap, tidak makan dan tidak mandi. Tidak bisa dibayangkan. Tapi mereka bercerita penuh dengan kemenangan.
Saya tidak hidup dimana kehidupan merupakan perkara yang susah. Ya, saya anggap bersembunyi di sumur berhari-hari merupakan hal yang susah. Bagaimana tidak susah coba, orang dulu, satu kepala keluarga, anaknya bisa tujuh sampai sepuluh. Syukur-syukur tidak ada yang terbunuh. Sekalipun bukan karena bersembunyi, tidak bersembunyi pun belum tentu hidupnya enak.
Saya melihat-lihat dan memperhatikan gubuk kecil ini. Suatu tempat yang hanya terdiri dari rajutan bambu dan paku. Ia berdiri dengan beberapa tiang kayu. Menjadi tempat ibadah dan acara hajatan apapun. Sebuah gubuk, yang pernah menjadi simbol setiap rumah di Madura.
Ya, saya masih ingat waktu kecil. Setiap rumah sudah pasti terdapat tempat yang bernama gubuk ini. Memang bahasanya macam macam, ada yang menamai khobung, langgher, atau khendu'. Tapi apapun namanya, fungsinya sama, yaitu tempat ibadah dan perkumpulan keluarga dan tetangga-tetangga.
Saya merindukan tempat itu, dulu saya belajar ngaji di tempat itu, makan dan bermainpun kadang di tempat itu. Tapi saat ini, tempat yang seperti itu sudah jarang ditemui. Mencari tempat itu, sama halnya mencari hartanya Karun yang dikubur. Jangankan anak saya kelak, bahkan adek saya tidak tau bahwa tempat bernama gubuk, pernah menjadi identik orang kami.
Akhirnya, saya pamit pulang dengan menghabiskan kopi dan cemilan. Saya dibawakan plastik merah besar berisi buah dan sayuran. Kami menjadikan semua orang sebagai kerabat yang melebihi saudara. Saya rasakan itu. Padahal, niat saya bertamu hanya ingin melihat gubuk dengan rajutan bambu dan paku.
Teras Rumah, 26 Januari 2019

1 Comments
Langgher : langghâr
Khendu':........ (Tidak tahu istilahnya)