Pagi tadi, saya menjemput adek saya yang menetap di pesantren, yang tak begitu jauh dari rumah. Sekitar 15 menit, perjalanan tiba dengan kecepatan rata rata 60 km perjam.

Saya duduk diruang tunggu bersama orang lain, yang tujuannya pastilah sama dengan saya. Yaitu, menjemput anak, atau adeknya untuk liburan selama 10 hari karena memasuki idul Adha.

Ada banyak santriwati yang keluar menemui penjemput. Dengan seragam warna kuning kotak kotak, membuat pemandangan begitu elok nan indah. Dengan membawa tas kecil, yang saya lihat berisikan mukena dan sajadah. Ada pula yang berisi makanan dan buku berupa komik dan novel novel.

Ya, mereka sangat sederhana. Saya melihat tas tas dengan gambar kartun kartun lucu kesukaan anak kecil, dibawa oleh santri yang mungkin ia sudah sekolah SMA. Tanpa make up, tanpa parfum dan tetap natural tanpa harus malu apalagi gengsi. Tapi siapa sangka, yang mereka bawa adalah buku yang tebal dengan penulis penulis terkenal.

Kehidupan di pondok pesantren memang sederhana. Baik itu pesantren putra atau putri seperti pesantren adek saya ini. Hidup dengan kesibukan belajar, hidup dengan rutinitas membaca, menulis dan berdiskusi. Mereka tak perlu membaca koran untuk melihat perkembangan politik. Atau harus membuka smartphone untuk melihat notifikasi sosial media, itu tidak perlu. Yang perlu mereka lakukan hanyalah belajar dan mengikuti kegiatan pesantren.

Seandainya kebudayaan indah itu kita miliki. Meskipun tanpa harus berada di sebuah gedung yang dijaga oleh keamanan agar tidak keluar dari batas seperti layaknya kehidupan di pesantren. Saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang maju. Bayangkan saja, kita terbiasa dengan kitab atau buku buku. Bukan gudget dan model fashion terbaru, yang akan mempercantik kita, dari luarnya saja.