Akhir akhir ini, ada banyak hal yang ditinggalkan dari perhatian orang-orang. Termasuk didalamnya film. Banyaknya film, telah merubah orang-orang, yang asalnya kagum dan bangga terhadap film itu, berubah menjadi biasa dan ingin melihat film yang lebih baru lagi.
Saya ingat, dulu tokoh tokoh pemeran film menjadi bagian dari kehidupan saya waktu kecil. Kami bermain sambil memerankan tokoh film yang kami senangi. Mulai dari film legenda seperti Angling Darma sampai film robot yang kostumnya warna warni, persis seperti warna warna dalam busana Barbie, cerah dan varian.
Sekarang kebiasaan itu telah hilang. Anak anak zaman sekarang lebih sering bermain game dari pada meniru bagaimana caranya tokoh Panji berjuang melawan musuhnya. Dulu kami pandai sekali menirukan tokoh di film film, dari nada berbicaranya sampai setiap gerakan tubuhnya.
Berbicara film, saya jadi ingat salah satu film yang sangat saya senangi. Film tersebut berjudul Dracula, seorang Vampir yang memangsa darah segar dari orang yang masih hidup. Film karya Bram Stoker ini, diambil dari karya novelnya dan terbit pada tahun 1897. Dracula adalah bangsawan vampir yang berasal dari Rumania yang lemah terhadap bawang putih, tanda salib dan roti Sakramen.
Tokoh film dracula waktu itu seolah-olah seperti legenda. Di Indonesia, tokoh penghisap darah ini seringkali menjadi salah satu kostum saat hari Helloween, atau kostum anak kecil dengan kerah merah dan juba hitam yang panjang dari belakang. Karena pada umumnya tokoh ini mempunyai diskripsi yang menyeramkan, biasanya ia mempunyai postur tubuh tegap dan tinggi, dengan wajah yang pucat serta dilengkapi dengan jas dan sarung tangan.
Tokoh dracula pernah menjadi tokoh horor yang trend. Dan dulu, dibuatlah permainan vampir dengan berupa akting kecil kecilan. Ada yang menjadi vampir dan adapula yang menjadi korban, dan ditengah keseriusan nya seorang panglima dari Angling Darma datang. Lucu sekali kan, campur aduk, ada banyak tokoh yang bermain dalam satu film. Ya itulah dulu, dimana film masih sangat lekat kedalam permainan anak kecil.
Sekarang hal itu telah sirna. Film tak lagi menjadi motivasi untuk menumbuhkan kreativitas anak anak. Sudah tidak ada lagi ketakutan untuk dihantui tokoh vampir, atau sudah tidak pernah terpikirkan tentang darah yang dihisap oleh taring taring itu. Justru mungkin, yang mereka takutkan ketika paketan internetnya habis atau ketinggalan permainan online, seperti Judo di hapenya.
Bagi saya, tokoh seperti vampir itu masih ada. Ia masih gentayangan di antara rumah rumah setiap orang orang. Ya mungkin, kalo dahulu, cara vampir beraksi begitu norak dan terang terangan, ia menghisap darah korban tepat di tempat terbuka. Namun sekarang, vampir mempunyai cara yang berbeda, yang mungkin mereka sesuaikan dengan zamannya.
Bisa jadi, vampir itu menjelma menjadi gudget dan selalu meresahkan kehidupan kalian. Hidup kalian dihantui oleh perkembangan gudgetnya. Atau, bisa jadi vampir itu selalu menemani kalian. Disaat gudget yang kalian mainkan tanpa sadar membuat kalian tak bisa tidur, hingga dini hari, tiba tiba lampu mati dan vampirpun datang.
Saya ingat, dulu tokoh tokoh pemeran film menjadi bagian dari kehidupan saya waktu kecil. Kami bermain sambil memerankan tokoh film yang kami senangi. Mulai dari film legenda seperti Angling Darma sampai film robot yang kostumnya warna warni, persis seperti warna warna dalam busana Barbie, cerah dan varian.
Sekarang kebiasaan itu telah hilang. Anak anak zaman sekarang lebih sering bermain game dari pada meniru bagaimana caranya tokoh Panji berjuang melawan musuhnya. Dulu kami pandai sekali menirukan tokoh di film film, dari nada berbicaranya sampai setiap gerakan tubuhnya.
Berbicara film, saya jadi ingat salah satu film yang sangat saya senangi. Film tersebut berjudul Dracula, seorang Vampir yang memangsa darah segar dari orang yang masih hidup. Film karya Bram Stoker ini, diambil dari karya novelnya dan terbit pada tahun 1897. Dracula adalah bangsawan vampir yang berasal dari Rumania yang lemah terhadap bawang putih, tanda salib dan roti Sakramen.
Tokoh film dracula waktu itu seolah-olah seperti legenda. Di Indonesia, tokoh penghisap darah ini seringkali menjadi salah satu kostum saat hari Helloween, atau kostum anak kecil dengan kerah merah dan juba hitam yang panjang dari belakang. Karena pada umumnya tokoh ini mempunyai diskripsi yang menyeramkan, biasanya ia mempunyai postur tubuh tegap dan tinggi, dengan wajah yang pucat serta dilengkapi dengan jas dan sarung tangan.
Tokoh dracula pernah menjadi tokoh horor yang trend. Dan dulu, dibuatlah permainan vampir dengan berupa akting kecil kecilan. Ada yang menjadi vampir dan adapula yang menjadi korban, dan ditengah keseriusan nya seorang panglima dari Angling Darma datang. Lucu sekali kan, campur aduk, ada banyak tokoh yang bermain dalam satu film. Ya itulah dulu, dimana film masih sangat lekat kedalam permainan anak kecil.
Sekarang hal itu telah sirna. Film tak lagi menjadi motivasi untuk menumbuhkan kreativitas anak anak. Sudah tidak ada lagi ketakutan untuk dihantui tokoh vampir, atau sudah tidak pernah terpikirkan tentang darah yang dihisap oleh taring taring itu. Justru mungkin, yang mereka takutkan ketika paketan internetnya habis atau ketinggalan permainan online, seperti Judo di hapenya.
Bagi saya, tokoh seperti vampir itu masih ada. Ia masih gentayangan di antara rumah rumah setiap orang orang. Ya mungkin, kalo dahulu, cara vampir beraksi begitu norak dan terang terangan, ia menghisap darah korban tepat di tempat terbuka. Namun sekarang, vampir mempunyai cara yang berbeda, yang mungkin mereka sesuaikan dengan zamannya.
Bisa jadi, vampir itu menjelma menjadi gudget dan selalu meresahkan kehidupan kalian. Hidup kalian dihantui oleh perkembangan gudgetnya. Atau, bisa jadi vampir itu selalu menemani kalian. Disaat gudget yang kalian mainkan tanpa sadar membuat kalian tak bisa tidur, hingga dini hari, tiba tiba lampu mati dan vampirpun datang.
2 Comments