Cinta, anugerah dan kutukan. Manusia diturunkan ke bumi karena kutukannya yang telah melanggar hukum alam. Dia diasingkan, dia dipenjarakan. Hidup dalam belantara, tumbuh, dan akhirnya menjadi raja atas tanah itu, melalui pertempuran dan tumpah darah. Sesama manusianya, sesama terkutuknya.
Hingga akhirnya, muncul cerita-cerita. Kemudian, manusia lebih dari sekedar daging yang terdiri dari tumpukan lemak dan urat-urat. Dia menjelma, menjadi ksatria, seorang pengembala, dan pelacur di perempatan kota. Banyak dan beragam.
Cerita cerita itu semakin kompleks, semakin merajalela. Dia membangun, merubah bumi, menjadi istana. Ada banyak bidadari bidadari tak bersayap di lingkarannya, dengan model rambut dan memakai bikini terkini. Hingga tiba, dimana bumi telah menjadi surga.
Kutukan berubah menjadi cinta dan anugerah. Dengan otaknya, dengan mobil dan kemejanya, manusia bisa menciptakan surga, bahkan di tempat paling belantara sekalipun, seperti bumi, seperti sandiwara ini.
Tapi, cerita tetaplah cerita. Harus ada akhir, ada titik, dimana cerita harus ditutup dan dibuka lagi keesokan harinya. Seperti manusiapun, manusia hanya diciptakan untuk mengisi cerita cerita. Ketika cerita itu selesai, manusia akan mati, dengan peti dan pita merah. Tenggelam dan hilang. Akhirnya cerita ditutup, dan manusiapun harus kembali dari surga buatannya.
Hingga akhirnya, muncul cerita-cerita. Kemudian, manusia lebih dari sekedar daging yang terdiri dari tumpukan lemak dan urat-urat. Dia menjelma, menjadi ksatria, seorang pengembala, dan pelacur di perempatan kota. Banyak dan beragam.
Cerita cerita itu semakin kompleks, semakin merajalela. Dia membangun, merubah bumi, menjadi istana. Ada banyak bidadari bidadari tak bersayap di lingkarannya, dengan model rambut dan memakai bikini terkini. Hingga tiba, dimana bumi telah menjadi surga.
Kutukan berubah menjadi cinta dan anugerah. Dengan otaknya, dengan mobil dan kemejanya, manusia bisa menciptakan surga, bahkan di tempat paling belantara sekalipun, seperti bumi, seperti sandiwara ini.
Tapi, cerita tetaplah cerita. Harus ada akhir, ada titik, dimana cerita harus ditutup dan dibuka lagi keesokan harinya. Seperti manusiapun, manusia hanya diciptakan untuk mengisi cerita cerita. Ketika cerita itu selesai, manusia akan mati, dengan peti dan pita merah. Tenggelam dan hilang. Akhirnya cerita ditutup, dan manusiapun harus kembali dari surga buatannya.
1 Comments
Tak caretaan nyamanah mon dek nikoh say...huhuhubu