Saya mempunyai banyak sekali idola di dunia perfilman. Ada Simon Baker, yang perannya sebagai Jane di Mentalist, membuat saya jadi berkhayal begini; sekiranya di kehidupanku aku adalah Jane, si cenayang yang tidak hanya mampu mengungkap kasus-kasus pembunuhan, tetapi juga bisa membaca pikiran binatang dan tumbuhan, niscahya aku tahu bagaimana tumbuhan ingin dirawat dan supaya mengerti kapan kucingku mau tidur atau bercinta. Atau jika di dalam negeri, saya suka Oka Antara, apalagi saat menjadi Farish di film Aruna dan Lidahnya yang peran utamanya adalah Dian Sastro, dan sosok bapak dari tiga anak di masa muda yang ada di film NKCTHI, garapan Angga DS dari novel Marcella FP.
Idola saya yang lain, adalah orang-orang di balik layar, yang bekerja sekeras mungkin demi memanjakan mata saya, mata jutaan pemirsa. Bahkan yang membuat sebuah film berarti, dan makes you moved adalah mereka, orang-orang yang jarang diketahui. Saya semakin penasaran jangan-jangan kisah di balik layar adalah kisah-kisah lain yang jauh lebih memukau.
Seperti Bruno Heller, menulis penyelidikan kasus-kasus kematian, mulai pejabat negara, teknokrat, milliyarder hingga tukang kebun yang silsilah keluarganya tidak terdata, menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar menulis biasa saat ia dijadikan film, The Mentalist. Saya menonton serial detektif yang dikepalai oleh Teresa Lisbon hampir setiap hari, meskipun tidak sampai akhir episode, 151 episode tayang di CBS stasiun televisi dan radio di Amerika.
Dalam benak saya, sebagai "penikmat" film, bagaimana dari setiap kasus yang ia bangun selalu relate dengan aspek sosio-linguistik. Tentu jawabannya adalah riset. Tetapi yang tidak terjawab adalah berapa lama mereka melakukan itu, dengan episode seratusan tersebut, mungkin bisa satu atau dua tahun.
Saya ingat, sebuah scene kematian salah satu penjaga berlian di sebuah perusahaan yang sangat megah, dinding dan kacanya seperti terbuat dari emas, di mana penjaga itu mati, seperti baru saja menegak racun atau obat mematikan yang akhirnya mulutnya berbusa. Lalu, si detektif kita ini mendekat, dan tidak membiarkan satu orang pun menyentuhnya, lalu ia menunjuk satu orang secara tiba-tiba sebagai pembunuhnya. Tuduhan itu tidak tepat. Ya. Ia hanya pancingan, alibi.
Dan saya selalu merindukan sebuah percakapan di dapur penyeledikan di kantor mereka bekerja. Sebelum petang tiba, tiba-tiba seseorang menelepon meminta bantuan. Dan di situlah vibes The Mentalist yang membuat saya mengernyitkan dahi.
Mungkin vibes untuk terperangkap di dalam sebuah adegan film berbeda-beda. Ada seseorang yang amat-sangat-membenci-sekali kepada film-film Drama Korea. Komentarnya simpel dan monohok: pria yang cantik, lebai, dan semua muka sama. Penilaian-penilaian, yang sama sekali, tidak menjadi bagian dari unsur intrinsik cerita. Hanya luarnya saja, dan itu sah bagi bukan pecinta film. Ibarat ia ke supermarket, ia akan menentukan apakah ia akhirnya membeli cemilan atau tidak, berdasarkan kemenarikan-ketidakmenarikan bungkusnya.
Jika mau adil, menonton Sinchan dan Doraemon harusnya dinilai setelah kita tahu tidak sekadar ternyata Doraemon hanyalah kucing luar angkasa karena ia takut kepada tikus, atau ternyata yang lebih menyebalkan dari Sinchan adalah papanya yang suka tidur. Apa yang membuat mereka menarik perhatian ada pada sekujur rentetan cerita yang pada akhirnya memberikan kesan. Jangan salah jika sampai saat ini, seseorang membenci Dinda Kanyadewi karena mereka "ingat" betapa ia sangat jahat saat memerankan Mischa di film Cinta Fitri. "Kebencian" itu adalah kebencian yang absah sebagai penikmat film karena ia mengikuti rentetan alur, unsur intrinsik sebuah film.
Jika dari dulu saya mengantongi film-film, baik dalam atau luar negeri, untuk dinikmati, diperas pesannya, saat ini saya ingin tahu bagaimana proses membuat film. Apa yang perlu disiapkan selain sebuah cerita di atas kertas, penokohan setiap karakter, dan bahasa yang dipakai. Ini kajian kecil masih. Belum lagi saat membahas sinematografi, hal-hal yang sepertinya menjadi kekuatan penting seorang producer dan kenyamanan pemirsa.
Sampai disini, saya hanya ingin mengenang dan mengingat nama-nama aktor dan judul film yang masih bisa ingatan ini panggil. Semua orang memiliki pandangan unik kepada apa yang ia tonton, baik film atau audio visual lainnya. Akhirnya, saya hanya menyarankan, jika anda tidak mau mengaku sebagai pecinta film, setidaknya menilai film setelah anda menontonya. Bukan menilai, karena aktor dan stasiun televisinya.
Pamekasan, 1 Mei 2021

0 Comments