Mari izinkan saya untuk menceritakan masa sekolah saya silam...
Igatan masa kecil selalu menarik untuk dikenang, meski tidak untuk diceritakan ulang. Misalnya di zaman saya sekolah dasar. Berjalan kaki dari rumah ke sekolah bergerombolan, masing-masing jika tasnya tidak digendong, ada yang disandengkan ke bahunya menyilang dengan satu tali, dengan ilustrasi film Saraz 007 atau Panji bertopeng hitam.
Dulu itu, jarang sekali teman-teman setetanggaan menggunakan sepeda apalagi sepeda motor. Saya punya teman pulang pergi naik motor Supra X karena bapaknya adalah guru di sekolah itu, guru Penjaskes. Perjalanan sekitar lima belas menit menjadi tidak terasa karena dilakukan setiap hari, dan juga, karena memang sangat jarang naik kendaraan. Landskap kehidupan yang jarang saya temukan pada anak SD zaman ini. Anak kecil saat ini, main ke tetangga saja, sudah pakai motor matik.
Di tengah jalan saya kadang sendirian. Kebetulan SDN Kowel III menjadi sekolah bergengsi sezamannya di kala itu. Al-hasil banyak murid-murid, baik dari rumah atau kampung sebelah, bersekolah ke sana -dengan tas berilustrasi yang beda dan lucu tentunya. Jika anda ingat, sempat ada cerita pembegal anak-anak, untuk diambil kepalanya, dan dijadikan tumbal. Bagi seusia anak SD kelas empat, menjadi keputusan yang berat untuk pulang sendirian. Saya pernah waktu itu dan tidak sendirian. Kami kabur terbirit-birit, sambil teriak-teriak "Tok-kettok" karena bertemu mobil Avanza yang berjalan pelan sekali seperti mengamati calon tawananya. Sekarang saya kembali mengingat, peristiwa itu lucu, karena bisa jadi mobilnya memang mogok atau sopirnya merasa telah salah jalan.
Sampai saat ini, cerita itu hanyalah cerita telinga ke telinga. Tak ada bukti menggegerkan. Selama saya sekolah dasar, tidak ada salah seorang adik tingkat yang dikabarkan meninggal tak berkepala di atas jembatan saat pulang sekolah, atau menghilang dan hanya ditemukan sepatu ATT dan tas sekolahnya. Meskipun di lain sisi, bagi saya itu penting, saya berharap cerita itu terus berjalan, paling tidak, tidak ada yang pulang sendirian, dan masih bergerombol (bergerombol yang sosial distancing)
Menginjak SMP, saya diterima di, katanya SMP Favorit, yaitu SMPN 2 Pamekasan. Setiap kali saya lewat, sekolah itu semakin bagus saja bangunannya. Terakhir saya tanya-tanya saat bertemu sesama alumni, kepala sekolahnya masih Drs, Abdullah, kepala sekolah saya silam. Arti kelapa sekolah sangat berbeda saat ini dan masa lalu sewaktu SMP.
Saat diterima di sekolah itu, di antara teman-teman se-tetangaan, tidak tahu hendak senang atau sedih. Yang lain masuk ke Madrasah Tsanawiyah dekat Kolpajung, tentu akan sering berkumpul, dengan jam pulang yang sama, dan sepakat untuk menonton TV di rumah siapa. Sedangkan saya tidak, saya harus bertemu anak-anak yang SDnya sering diantar menggunakan motor oleh bapaknya, atau paling tidak, memiliki sepeda gunung, sepeda yang rodanya besar dan menyeramkan, pikir saya kala itu. Dan itu tidak baik bagi kesehatan mental.
Di sekolah yang saat ini dekat dengan Rujakin itu menyimpan banyak kenangan dan keanehan-keanehannya. Saya ingat, betawa kelas-kelas sosial yang teorinya saya temukan di bangku kuliah, saya justru praktekan, saya alami dan saya lihat dengan kepala anak polos sejak SMP. Ketika siswa-siswa berkumpul berdasarkan jenis merk sepeda motor yang sama; Satrea X atau Ninja RX dimana masing-masing akan bertanya berapa harga pelk atau spionnya. Atau, jika saya ke perpustakaan, maka saya akan melihat segerombolan anak-anak pintar berbicara tentang hukum fisika dan terburu-buru dikejar deadline tugas kesenian. Rata-rata mereka berkacamata dan jika boleh ditebak, kelasnya adalah kelas G, Advance class. Maka cukup alasan saya dulu, menyendiri sambil makan gorengan di kantin, atau memesan bakso di belakang mushalla. Lalu masuk kelas saat bel, seolah-olah barusaja tidak melalui jam istirahat kelas. Seperti itu setiap hari sampai akhirnya ada satu teman, yang merasa kami senasib, dan dia hanya merasa cocok jika bersama saya saja. Bersama yang lain tidak (ini seperti cerita di tahanan dan saya dikucilkan oleh napi lainnya, karena masuk penjara hanya gara-gara menyolong ayam, bukan jenis kejahatan yang patut dibanggakan, tidak seperti maling motor, pencabulan dan korupsi Bansos Covid19)
Akhirnya saya pindah ke pondok di kelas delapan. Waktu itu saya pamit dan guru BK saya, Ibu Attin, memberikan nasehat yang ia ambil dari kitab Taklimul Mutaallim. Sejuk rasanya. Ia tersenyum dan saya mencium kedua tangannya, berharap mendapatkan ilmu yang barokah. Juga ke guru-guru yang lain, ada yang memberikan saya uang, termasuk kepala sekolah, yang ternyata beliau alumni Bata-Bata.
Dan di pondok, pendidikan saya semakin meluas. Dibenturkan dengan persoalan tauhid, akidah, dan fiqh praktis. Juga jenis kesenian seperti kaligrafi, linguistik seperti bahasa inggris, dan kepemikiran seperti kajian Filsafat. Rasa-rasanya, masa-masa kecil dan hura-hura semakin menyusut saat berada di lingkungan ini. Masa, di mana lingkungan besar mengapresiasi ilmu pengetahuan dan menyokong pembentukan mental, setinggi dan sekhidmat mungkin.
Dan di pondok berjalanlah banyak kisah, yang pelik untuk dituangkan disini...
Mungkin saya cukupkan ingatan masa silam, seputar lucu dan anehnya mengeyam pendidikan. Ada banyak hal kontras anak SD dan SMP saat ini dan masa lalu. Dunia cepat berubah, meninggalkan masa-masa di mana pulang pergi sekolah hanya dengan jalan kaki, dan nimatnya menikmati sambal cabai rujak kripik singkong di belakang sekolah saat istirahat. Hari ini cerita lain dengan dimensi baru. Hari ini, belajar tidak seperti dahulu, tidak harus berada di ruangan berukuran 3 kali 3 meter persegi, dengan papan dan kapur tulis di depan. Hari ini belajar cukup dengan Zoom Meet dan mengunduh materi PPT di internet.
Saya menghentikan cerita, yang mungkin tidak untuk diceritakan ulang. Di hari pendidikan nasional ini, impas rasanya jika bisa memanggil ingatan masa lalu di sekolah. Dan lebih-lebih bisa mengajarkan apa yang kita ketahui dan apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh adik-adik penerus bangsa.
Setiap cerita akan tinggal di ingatan masing-masing. Dan cerita itu tidak perlu bagus sekali atau sedih sekali. Kita, dalam cerita tersebut, bukan sebagai pembuat, tetapi sebagai lakon, lakon utama. Semoga selalu semangat untuk siapa pun yang masih bertahan dalam cerita perjalanan menempuh pendidikannya. Mari kita belajar sampai tua, karena setiap hari adalah hari pendidikan.
Kamar, 2 Mei 2021

0 Comments