Coba kita bayangkan apabila seisi rumah sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Mereka menonton tontonan yang tak akan habis. Mereka juga mendengarkan lagu yang tak pernah berhenti. Terus-menerus. Hingga urusan seperti cuci piring, angkat jemuran, dan ganti popok bayi bisa saja terlupakan. Bayangkan di rumah kalian, kehidupannya demikian selama seminggu! 


Saya sadar, pengaruh gadget sangat luar biasa. Lihat saja, informasi cepat menyebar dari belahan negara sekali pun. Kadang berlebihan, yang muncul bukanlah informasi yang benar-benar kita butuh. Ia terlalu banyak diterima dan terlalu aneh bentuknya, membuat mata tidak mudah mempercayainya. Dan membuat kita takut. 


Saya ditanya oleh ibu, "kamu punya video ikan terdampar itu?" antara penasaran dan tak habis pikir, mungkin. Lalu saya mengatakan ada, dan menunjukkan berita di kanal youtubenya Kompas yang sudah ditonton sekitar 9 ribuan views. Saya memberikannya, ibu saya menontonnya, lalu dia menggelengkan kepala dan berkata, "Tanda-tanda apa ini ya?" Saya tersenyum saat beliau menatap gadget sambil teringat akhir zaman. 


Saya menjawab, bahwa peristiwa ikan terdampar di pesisir, dalam jumlah puluhan, bahkan ratusan, merupakan peristiwa yang biasa. Hanya saja, mereka tidak diketahui oleh orang-orang. Berbeda dengan saat ini, "Karena sekarang ada handphone, bu!" (ia akan jauh lebih parno saat menonton dokumentasi bom Hiroshima) beliau mengangguk tanda mengerti, dan cukup membuatnya tidak khawatir lagi. 


Memang benar bahwa batas-batas telah lenyap semenjak Tv masuk ke rumah-rumah. Kotak pandora, itu kata Azyumardi Azra, menjadi awal akulturasi dan asimilasi suatu budaya. Dan sepertinya, setiap hal yang kita lakukan saat ini, mulai dari gaya hidup dan cara bicara, adalah keseragaman yang kita terima secara sadar. Itu yang kuamati dalam pelajaran ilmu-ilmu budaya. 


Nah, bagaimana jika itu ada di rumah-rumah.  Setiap hari saya menyaksikan bagaimana orang-orang melakukan "reaksi" atas "aksi" dari informasi, gimmick, dan prank yang bertebaran luas di dunia digital. Orang membicarakannya, menirunya, dan mempergemuk ruang digital. Akan ada banyak kebaikan yang bisa dibuat-buat, dan banyak keburukan yang menyeret kita semua. Bisa jadi lebih dari separuh dunia telah dirasuki hedonisme. 


Di luar itu, saya senang akhir-akhir ini ibu saya menonton ceramah Ustad Musleh sambil cekikikan sendirian. Tapi kadang saya juga rindu ia seharian mengobrol sambil tiduran di amper tetangga. Atau jalan kaki dari sore dan pulang hampir maghrib membawa rujak. 


Lain sisi, 'keparnoan' akibat gadget sering saya cium di rumah. Semenjak adek saya yang masih SD diberikan handphone, ia jarang main, hanya di rumah menyekrol layarnya, kadang terdengar ia karaoke, atau video call bersama entah siapa dan akhir-akhir ini, setiap pagi, tersemat di whatsapp storynya: good morning berimoticon love. Saya hanya geleng-geleng kepala, menduga semoga PR nya selesai ia kerjakan. 


Gadget masuk ke rumah, pelan-pelan meninggalkan televisi dan radio sebagai hiburan. Ya, televisi di rumah rencananya mau dijual minggu ini, karena informasi dan hiburan telah ada dengan volume yang jauh lebih besar. Semuanya benar-benar dalam genggaman. 


Akhirnya saya memutuskan untuk membelikan adek paket untuk sekadar bisa membalas chat atau mengumpulkan tugas saja. Urusan ibu membutuhkan informasi terkini seperti video ikan Paus di Bangkalan, biarlah saya yang meminjamkannya. Toh adek saya juga akan kebingungan saat ditanya, "tanda-tanda apa ya ini?" 


Rumah, 20 Feb 2021