Aku gemar memandangi kelinci-kelinci milik Jemali. Saat sore biasanya mereka keluar terburu-buru, lalu berhamburan di tengah halaman luas. Paling aku suka adalah ketika mereka berlari. Punggungnya besar, menggeal-geol, dan masih ragu apakah mereka mahluk yang melompat atau berjalan. Aku suka mulut mereka saat mengunyah wortel. "Uwaw. Kelincinya banyak sekali!"
Suatu hari aku mengajak temanku. “Dari pada setiap
sore kesini untuk melihat kelinci, kenapa tidak kelincinya saja dibawa ke rumah!”
ia menyarankan sesuatu yang masuk di akal. “Jangan! Nanti dikira maling!” aku
sedikit ragu sebenarnya, ide dia terlalu bagus. “Kata siapa. Kan dibawa untuk
dilihat, tidak lebih! Nanti kita kembalikan lagi.”
Kami sepakat waktu itu. Dan keesokan harinya, dua anak berumur sepuluh tahun telah berada di polsek dekat terminal, karena diduga mencuri kelinci putrinya bupati. Juga, pintu pagar yang jebol dan akibatnya, semua kelinci-kelinci itu hilang dan hanya tersisa satu. Kelinci yang kami bawa, yang sedang dikasih makan pak polisi.
0 Comments