Ketika hendak mengelap gelas yang berdebu itu, kubilang “jangan!” kau tak mengerti. Saat kau ingin menurunkan lukisan yang kacanya telah buram itu, kubilang “jangan!” masih saja, kau belum mengerti.

Susah rasanya memberikan pengertian terhadap orang yang tidak pernah melewatinya. Kata-kata terlalu lemah. Kenangan setiap orang terlalu mahal jika hanya ditebus dengan kata ‘minta maaf’ atau ‘terima kasih’.

Dulu, aku ingat, betapa menghargai seseorang adalah dengan tidak melihat bentuk pemberiannya. Sekecil biji salak sekali pun. Tetapi lebih. Bukan sekadar sesuatu itu menjadi ada, dan lupa siapa yang membawa, yang merawat dan yang meninggalkannya untuk kita. Kelak.

Kantor PCNU Pamekasan, 20 Februari 2020