Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang bermain apalagi
sambil belajar. Seperti yang hari ini kami lakukan, menerabas lebat hujan di
hari Rabu dan terbayarkan saat disambut antusias adik-adik pelajar dengan
seragam rapi dan masker yang menutupi pipi-pipi gembulnya.
Saya tidak tahu, kenapa begitu menyenangkan untuk bertemu
adik-adik ini, yang katanya sudah siap belajar sambil bermain. Ini pertemuan
kedua. Saya bersama Lina, sepupu saya, tidak peduli seberapa basah dan seberapa
aneh cara orang yang berteduh memandang kami. “Ayo Lin, basah-basahan gapapa,
nanggung!”
Kami tiba, disambut adik kecil yang duduk berserakan, seperti
yang biasa saya temui saat santri menunggu ustad datang dalam kajian kitab ketika
saya di pondok dulu. Lalu tiba-tiba duduknya rapi, dan mengecilkan volume suara
dan sebagian diam seketika, saat kami --mereka memanggilnya kakak—datang. Ya
ada sekitar 15 siswa-siswi tingkat SMP yang siap bermain bersama kakak-kakak
yang sebaya dengan guru mereka.
Memang benar anak kecil tidak bisa berbohong bahwa bermain
sangat menyenangkan. Mereka bisa menangis jika dilarang melakukan itu. Orang
dewasa boleh menirunya, dan merasakan bagaimana indahnya menjadi anak kecil: bicara
seperti anak-anak, say hello-hai, dan pura-pura bertanya sesuatu yang kita
sudah tau jawabannya: di sini siapa yang siap belajar dan “apakah tadi sudah
sarapan atau tidak?”
Kami, Compok Literasi, tidak hanya bermain saja. Di dalamnya
ada pelajaran, Bait menyebutnya sebagai tiga kata kunci sukses; bagaimana
menggunakan kata ‘Maaf’, ‘Tolong’ dan ‘Terimakasih’. Melihat dia menjelaskan
itu, saya jadi ingin kembali ke bangku sekolah lagi, yang khusuk mendengarkan
apa yang disampaikan oleh guru dengan tangan dilipat dan tidak akan bersuara
sebelum mengacungkan tangan.
Sesuatu yang kita tahu dan tidak sering kita pakai. Bisa
jadi, tiga kata itu, tidak hanya bagi anak-anak berseragam ini, orang dewasa
pun tidak pandai menggunakannya. Mungkin, hanya dalam waktu dan urusan
tertentu. Kami belajar menggunakan kata itu yang disematkan ke sebuah cerita.
Ya cerita juga menarik bagi anak-anak, kan.
Lalu kami menggunakan kata itu ke sebuah permainan Adu Cepat
Merangkai Kalimat. Ini bagian saya dan seperti berada di atas panggung imtihan.
Cuma bedanya tidak ada wali murid yang siap menepuki dan menyemangati
anak-anaknya yang kegirangan. Orang tua mana yang tidak suka anaknya cepat
merangkai kata dengan unsur tiga kata tadi.
Lalu, terakhir, Arigi menutupnya dengan kisah bergambar:
tiga sekawan yang terlambat karena menyolong mangga milik tetangga. “Ini fatal!”
katanya. Arigi bercerita sambil memainkan mimik wajahnya, membuat semua orang
tertawa menganga. Kadang saya geleng-geleng, “siapa dari tiga anak ini yang suka
berbohong?” lalu mereka menjawab sambil sahut-sahutan seperti arisan ibu-ibu.
Akhirnya, menjadi senang saat kami rampung menyematkan tiga
kata yang kita kemas sedemikian rupa, kepada adik-adik yang akan mereka bawa ke
rumahnya, dan selamanya. Siapa yang tidak senang, saat salah satu adik ini mengawali
dengan kata terimakasih kepada ibunya untuk sekadar menerima uang jajan, atau kata
tolong untuk sekadar mau makan atau maaf meskipun di luar bulan suci bagi bapak
dan ibunya.
Catatan ini tidak bisa mewakili keceriaan Rabu yang mendung
ini. Dan akan ada hari lain, adik-adik lain, jenis pelajaran dan permainan
lain, yang akan Compok Literasi lakukan ke depan.
Rumah Arigi, 24 Feb 2021

1 Comments