Selalu begitu, setiap malam, nenek itu pulang lewat depan rumah. Lantas menyeret kakinya ke belakang dapur lalu melintasi kamar mandi dan suara langkahnya menghilang di belakang kandang sapi. Meski langkah kakinya telah lenyap di telan malam, tapi gumamannya seolah menggedor siapa pun yg belum tertidur. "Mana cucuku, sudah dua hari tidak pulang-pulang"


Setiap jam sepuluh malam kami pasti mendengar langkah kaki dan keluhan yang mengibakan itu. Suara nenek yang lirih. Kadang samar oleh reriuh angin musim hujan.

Suatu hari bapak ketahuan meletakkan nasi dan lauk pauk di pinggir kandang, ia meletakkan rapi seperti akan memberikan makan kepada Ratih, tetangga yang biasa main ke rumah. Bapak pergi meninggalkan nasi di atas piring dan keesokan harinya telah lenyap.

Aku tau sapi adalah binatang herbivora tapi selama ini sapi-sapi bapak hanya diberikan rumput dan daun-daun jambu. Bukan nasi dan lauk pauk. Dan aku tidak hanya melihat bapak sekali melakukan itu melainkan tiga kali. Terakhir di atas atap kamar mandi satu minggu silam.

Mungkin kecurigaanku salah terhadap nasi yang ingin bapak berikan untuk nenek yang mencari cucunya tengah malam sendirian itu. Aku pikir dia hantu yang menyamar nenek-nenek.

Dua tahun lalu aku pernah bermain bersama bapak dan mama saat kami berlibur ke Surabaya. Mereka menanyakan apa cita-citaku saat besar nanti. Dan aku menjawab, "aku hanya ingin selalu bersama kalian," mereka tersenyum. "Tidak mau jadi guru? Atau dokter?" Tanya mama. "Ayla mau jadi apapun, asal tetap bersama bapak dan mama." Mereka tersenyum lagi.

Photo-photo kami pajang dan membuat iri tamu-tamu mama saat arisan. Atau Deni, sahabat bapak saat main catur sepanjang malam sabtu. Photo itu katanya adalah photo keluarga terharmonis dari photo keluarga yang pernah ia lihat, termasuk photo keluarganya sendiri.

Aku sering menatap bapak berdiri di depan photo kami. Ia kadang tersenyum. Kadang bersedih hampir meneteskan air mata. Aku tidak tahu seberapa besar memori yang bapak panggil saat melihat photo itu. Kadang aku berpikir bahwa meletakkan photo dan membuat keluarga lain iri adalah ide buruk.

Aku ingat peristiwa penting saat bapak baru saja pulang dari tugas dinasnya. Dia membawakan kami sembilan kardus besar dan masing-masing kardus ada nama, petanda kado ini untuk siapa: Ayla Putri Darsono atau Rindita Laksmita Darsono, mamaku yang cantik.

Di dalamnya berisikan banyak hal yang membuat kami senang. Boneka teddy untukku, panci elektrik untuk mama, kaos liverpool original untukku dan gaun berbintik diamond indah untuk mama. Satu kamera mainan berwarna pink yang di dalamnya adalah koleksi Marvels. Aku paling suka. Dan masih banyak lainnya.

Setiap kardus berisikan satu surat curhat untuk ditulis oleh kami untuk bapak ketika pergi dinas selama empat tahun ini dan di bawahnya tertulis keluarga Darsono dengan font Calibri, font kesukaan mama. Kami berdua merasa ini adalah hadiah yang sesungguhnya.

Waktu itu aku menulis delapan harapan dan masih ada satu surat. Aku sudah merasa harapanku sudah cukup. Lalu dengan tidak terlalu yakin kuisi dengan pertanyaan asal tapi jujur: di mana nenek Ama tinggal? Bapak tidak menjawab itu bahkan sampai tak ada kesempatan untuk memberikan jawaban kepadaku. Aku menyesal memberi pertanyaan sesulit itu.

***

Sabtu sore, biasanya om Deni ke rumah dan jika  kemarin dia mendapatkan banyak tip dari penumpangnya, dia pasti membawakan ayah martabak tanpa keju dan dua bungkus rokok kretek.

Mereka, kata ibu, pernah satu sekolah dan pernah ditolak oleh perempuan yang sama. Kami berdua tertawa mendengarnya. Mama juga pernah bilang bahwa nenek Ama pernah tidak membukakan pintu karena bapak telat dua menit untuk pulang jam sembilan malam. "Akhirnya bapakmu tidur bersama sapi-sapinya ibuk." Kami melihat kekonyolan pada laki-laki jika belum beristri.

"Ya mereka berteman sejak kecil." Ujar ibu ketika aku membantunya membuat pastel. Aku tersenyum saat keluarga yang biasa-biasa ini tertawa oleh hal yang biasa-biasa juga. Padahal mama tidak pernah meminta aku menjadi apa. Ia hanya bertanya dan meyakinkanku bahwa itu adalah keputusan yang aku mau. "Jadilah yang Ayla mau!" Pesannya.

Om Deni tidak beruntung dan ia hanya membawa gorengan dan satu bungkus rokok untuk bapak. "Sudah berapa kali melihat tutorial catur di Youtube kamu, Dar?" Om Deni sering menutupi ketakutakannya dengan cara itu di depan bapak.

Jika sudah sabtu malam, bapak akan duduk sepanjang malam sampai matanya berair dan aku akan mendengar suara nenek-nenek dari belakang rumah mencari cucunya. Aku ingin tau cucunya siapa.

***

Dulu ustadku bilang, bahwa manusia yang sudah meninggal akan memilih dua hal. Pergi ke tempatnya yang tenang. Atau masih menetap di rumah bersama keluarganya di rumah.

Bapak yang malang. Ia mengurus rumah sendirian.

Dua tahun lalu, kecelakaan membuat kami mengalami hari-hari yang susah. Sulit. Mama meninggal di lokasi. Bapak koma selama dua minggu. Dan aku, aku meninggal lima belas menit setelah insiden ketika masih berada di ambulance menuju rumah sakit. Ada satu mobil cepat menghantam mobil kami dari kiri, tepat ke arah mama.

Mama pergi. Dan tidak pernah kembali. Ia telah menemukan tempat yang nyaman dan tenang. Aku masih di rumah. Mungkin tuhan mengabulkan cita-citaku untuk terus menemani bapak. Mau jadi apapun aku, yang penting aku bersama bapak.

Sebelum aku meninggal, aku takut dengan suara nenek lirih yang mencari cucunya. Kini aku tahu, bahwa itu adalah nenek Ama, ibunya bapak. Ia memilih untuk menemani bapak, dan dua tahun ini, ia tidak bersuara lagi, karena aku adalah cucu yang ia cari. Bapak tidak sendirian. Setiap malam ada suara ibunya, dan setiap malam sabtu om Deny pasti datang ke rumah.

Rumah, 8 Feb 2021