Terlalu banyak hal yang mesti diingat setiap harinya, seperti menutup pintu kandang kelinci, mematikan sakelar lampu dan jendela kamar terkunci di malam hari, kemudian ingatan kecil yang lainnya. Mungkin, saking terlalu banyaknya hal yang mesti diingat, bisa jadi sesuatu serba tertukar: antara ramuan tanaman dan obat penumbuh rambut, kapan seharusnya menjemput Eli dan menukar resep ke apotek, termasuk kapan waktu yang pas berkonsultasi dan jam berapa harus meminum obat. Ingatan-ingatan itu, bisa sangat mungkin, membuat kehidupan nenek Ama berantakan.
Eli waktunya pulang. Nenek Ama masih terkatuk-katuk di atas kursinya, sembari memegang majalah anak-anak, sedangkan radio yang menceritakan kisah mitologi alien masih di episode kedua dari delapan belas episode. Empat kali telepon berdering belum ada tanda-tanda nenek ini teringat cucunya. Dengarlah, suara dengkurannya yang kecil nyaris tak terdengar, hilang-timbul akibat volume radio yang tak menentu. Pasti nenek Ama kecapekan setelah selama satu pekan menyambut tamu yang datang, atas kematian putrinya, Lisa, mama Eli, pemelihara Kelinci yang tewas tertabrak mobil ambulance saat mengejar kelinci keluar pagar.
"Halo, iya saya sudah di jalan, sebentar lagi tiba," nenek Ama akhirnya mengangkat di telepon ketujuh pas majalah di tangannya lepas dan terjatuh. Ia terlalu tua untuk sebuah aksara kecil dalam buku berwarna itu, meskipun dibantu tasmak kesayangannya. Kemudian nenek Ama berjalan dari arah kamarnya, mengeluarkan jaket, lalu pergi ke bagasi. Ada sepeda kayuh yang biasa digunakan Lisa menjemput Eli. Nenek Ama akan melakukan hal yang sama meskipun sepertinya ia tidak begitu hafal jalan menuju sekolah, karena pertama kalinya menjemput Eli dengan ban sepeda yang kekurangan angin itu.
Mungkin bukan persoalan jika seorang nenek bersepeda di siang waktu, dengan membawa sisa ingatan lorong-lorong di masa mudanya. Cukup menyita perhatian, apalagi ban yang kurang angin bisa jadi membahayakannya saat melewati tanjakan. Belum lagi ia akan membonceng anak perempuan berusia 10 tahun dengan berat badan 44 kg. Belum lagi bulan ini, kematian Lisa, membuat nenek Ama tidak melakukan kontrol kepada spesialis jantungnya. Pekan ini ia tidak lagi menerima daun sirih di luar pengobatan medis, padahal Kamis malam, jantungnya kambuh saat menemani Eli tidur. Itu hari buruk dan bukan menjadi alasan untuk membiarkan cucunya sendirian di sekolah.
Ada ingatan yang harus dipanggil ulang oleh nenek berusia 73 ini lebih keras. Belum lagi, sekitar jalan menunjukkan hal-hal baru baginya. Apa yang disebut rambu lalu lintas, ia adalah bekas taman indah yang hanya bisa dilalui pesepeda dan pejalan kaki. Atau petugas kebersihan. Gedung itu, yang tidak semenjulang saat ini, yang belum sepesat orang-orang yang berjalan membawa tas di bawahnya seperti yang ia lihat saat ini bisa membuat kakinya memperlambat sepedanya. Polusi dan bebunyi klakson, cukup mengagetkan nenek pengidap penyakit jantung yang meskipun ia lebih sering lupa, apakah sudah meminum obat atau belum.
Untungnya ingatan menuju jalan The School of Advance yang biasa disebut Asra, masih melekat di kepalanya. Memang sejak dulu halte di ujung plang itu ada, sebelum belok kiri di depan kantor polisi, yang saat ini terlihat lebih rapi dengan warna mati. Ada kafe Manifest di selatan jalan Veteran sebelum tiba di masjid Syifa. Laku belok kiri di depannya. Sekolah berada di pinggir toko bunga kecil yang bersebelahan dengan gerbang besi tinggi tersebut. Ya, kesumringahan nampak getir di wajah nenek. Begitupun ingatannya.
Ingatan tentang sekolah itu muncul karena sejak ibunya, nenek Ama, Lisa dan juga Eli bersekolah di tempat yang sudah puluhan tahun lebih tua dari dirinya. Apalagi dari Eli. Nenek Ama yang tiba di ambang pintu, gerbang terbuka, siswa-siswi berlalu lalang menggendong tasnya, menemui orang tua atau pengasuhnya masing-masing. Sekolah itu tetaplah sama di dalam ingatannya. Bahkan sangat melekat, melebihi caranya mengingat obat-obatan. Nenek Ama masih mengenal betul posisi taman bermonumen burung rajawali itu. Bahkan lebih bagus. Sekitarnya ada pesan-pesan moral terbuat dari kayu yang ditulis menggunakan cat yang sengaja dibuat sembarangan. Ia tertegun saat nama sekolahnya hanya berubah warna, posisi dan ukurannya tidak berubah sedikitpun.
"Siapa yang nenek cari?" Seorang perempuan berbusana putih, membawa map kuning, dan bersepatu pantoefl mendekat ramah.
"Eli!" jawab nenek.
"Eli?"
"Ya gadis kecil yang suka membawa boneka beruang, yang di kepala bonekanya ada tulisan 'Eli's Doll"
"Oh Eli," wanita yang sepertinya belum menikah itu tersenyum dengan sedikit mengernyitkan dahi. "Mari saya antar, Nek."
Mereka berjalan di tengah lorong-lorong kelas. Pintu-pintu sudah tertutup, hanya sebagian yang terbuka. Itupun separuh. Nenek Ama sambil tolah-toleh dan sesekali tersenyum entah apa yang dilihat. Tidak banyak memang yang direnovasi dari sekolah ini, kecuali lapangan basket dan laboratorium yang semakin diperluas. Koridor yang sama, yang kadang nenek teringat ke masa kanak-kanaknya.
Lalu mereka tiba di depan ruangan yang telah terkunci. Nenek Ama tiba-tiba lupa ruangan itu digunakan apa. Bahkan ia lupa apakah ruangan itu pernah ada atau tidak. "Nenek sudah minum obat?" Wanita di sampingnya itu bertanya saat ia membuka ruangan yang tidak menunjukkan seperti kelas itu.
"Belum. Tapi saya biasa membawanya,"
"Ada dimana nek?" Tanya wanita itu sambil mempersilahkan nenek masuk dengan gerakan tangannya.
"Di tas," nenek tersenyum.
Lalu wanita itu membuka lemari besar berwarna cokelat dan mengambil sebuah frame foto seukuran 10R.
"Benarkah ini Eli, Nek?" Nenek Ama mendekat dan memperhatikan wajah di foto dalam bingkai kayu itu; bocah kecil tersenyum dan memegang boneka beruang bertuliskan Eli's Doll. Nenek Ama tersenyum. Kemudian menangis. Seperti mengingat sesuatu.
"Sekarang nenek istirahat, saya antar pulang. Nenek cukup menjaga ingatan nenek saja. Tentang kapan dan dimana nenek harus minum obat. Jangan yang lain! Eli dan Lisa pasti senang di alam sana, melihat nenek masih sehat. Nenek adalah wanita yang baik dan pekerja keras. Lisa sering cerita nenek saat menjemput Elu. Mereka berdua beruntung memiliki ibu dan nenek seperti Anda."
Berapa ingatan nenek Ama yang tertukar?: ingatan Lisa yang meninggal akibat mengejar kelinci. Bukan kelinci. Tapi Eli, anaknya. Bukan Ambulance. Tapi truk pengangkut bangunan. Bukan telepon dari sekolah yang berdering. Tapi telepon dari spesialis jantungnya. Dan juga bukan dua pekan tidak kontrol, tetapi hampir satu bulan nenek Ama tidak ke rumah sakit.
Betapa ingatan adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini.
Kantor Kabar Madura, 17 September 2019

0 Comments