Aku berada dalam titik tolak. Yang percuma jika kuceritakan kepadamu karena waktu dan tempat kita singgah berlainan. Kamu di sana, memandang dunia sebagai semesta yang bisa kau jadikan apapun. Aku disini, dunia hanyalah serpihan kecil lain dari serpihan-serpihan lainnya. Ada yang lebih istimewa dari dunia ini. 


Ingin kuceritakan kisah seorang pelaut yang setiap hari ke tengah lautan bertemu ombak tetapi bukan untuk mencari ikan. Ia hanya membawa buku dan album lagu tahun 90 annya Desi Ratnasari untuk diputar. Bukan jaring ikan. Ya orang tua itu senang menceritakan sesuatu yang terkadang muskil untuk sepasang lumba-lumba dan segerombolan ombak. Lalu burung-burung yang berlalu lalang di atas sana.

Kesenangan itu seperti cara aku bercerita untukku sendiri. Dalam kemelut di ruangan dua kali tiga meter ini aku cukup bahagia. Bahkan sebelum hujan berhenti memukul genting di kala musim kemarau, musim yang seharunya tak ada hujan.

Bunyi kucing dan anak ayam di belakang rumah, adalah bahasa yang oleh manusia menjadi 'lapar' atau 'bercanda'. Mereka tidak sekadar diciptakan, yang bukan hanya hidup untuk disembelih manusia apalagi disiksa. Tumbuhan. Tanah di pinggir pantai. Dan gunung yang pohonnya bersarang anak burung kenari dan jaring laba-laba. Mereka bukan diperuntukkan untuk manusia. Bukan mendukung manusia merajalela atas semuanya.

Aku ingin lebih dekat dengan mereka saja. Dan menjadi mereka. Dalam ketenangan alam yang tumpang-tindih dari penghujan hingga kemarau. Dari pasang dan surutnya ombak-ombak tanaman bakau. Dan bebintang sebagai petunjuk arah kemana angin bergerak menunjukkan, bahwa dunia ini hanyalah titik tolak.

Kamar Ibuk, 29 Nov 2020