Apa yang membuat kita peduli terhadap sesuatu? Jawaban paling aman dan mudah untuk dijelaskan, karena kita mengerti valuenya, merasakan manfaatnya. Jika tidak, ya sebaliknya. Menganggap "keberadaan" itu sama seperti tak ada.
Tidak banyak yang saya perhatikan. Misalnya untuk urusan desain grafis. Mulai jaman saya bekerja banner, cetak undangan hingga menjadi freelancer, pegiat seni ini sudah ada dimana-mana. Artinya jika Anda barusaja memulai untuk masuk ke dunia ini, telah banyak senior-senior yang tentu pengalaman, kompeten dan inspiratif.
Keberadaan desain grafis, seperti yang sering saya ujarkan dalam diskusi meja-meja kecil, berkembang memenuhi kebutuhan setiap hal. Apapun. Mulai dari olshop hingga akun milik pemerintah. Sepertinya, ke depan, kegiatan dan aplikasi 'ini' akan se familiar kegiatan mengetik dan Wordpadnya Windows. Saat dimana semua orang adalah bisa mendesain.
Itu bukan persoalan. Justru kemujuran. Yang betul menjadi persoalan adalah ketika ekosistem seputar desain terkungkung di dalam lingkaran opurtunisme. Istilah terkungkung terjadi ketika 'penetapan' mutu desain jatuh di tangan orang yang salah. Sementara spekulasi ini mengawang, melihat bahwa desain grafis adalah produk seni, yang setiap orang bebas membuat, dan memaknainya sendiri.
Suatu desain untuk sekadar kebutuhan sendiri, dinikmati sendiri, bahwa orang lain tidak punya intervensi karena memang tidak berhubungan dengan orang banyak dan sengaja diletakkan di rumah, ini bisa diterima. Tetapi berbeda dengan desain yang kemudian menjadi kepentingan bersama, seperti kompetisi dan penjurian desain maskot KPU, yang mengharuskan akademisi desain berkomentar. Color mood lalapan bisa-bisa menjuarai logo BUMN jika dikasih ke juri tukang bikin banner makanan.
Orang yang kompeten yang saya maksud, bukanlah orang yang lahir dari percetakan, apalagi dari praktek magang anak SMA. Melainkan desain grafis yang berasal dari rahim akademis, yang benar-benar mengerti ilmu dan terapannya. Entah ia dosen atau tehnisi. Siapa yang sanggup dijurikan oleh profesi juru ketik dengan modal bisa mendesain akibat tutorial Yt. Tidak akan. Apalagi orang yang taunya komentar saja, 'cuma begitu', membuat desain jelekpun tidak tahu.
Saya rasa, apabila ketidakpedulian itu dirasakan masif, dan yang memandang desain 'cuma-cuma' tidak sedikit, itu menandakan bahwa value desain grafis dipandang sebelah mata. Desain bukan menjadi power lagi dalam seni. Orang yang bisa mengaplikasikan photoshop atau canva belum tentu kompeten bicara soal desain dan terapan-terapannya. Karena desain grafis lebih dari sekadar tool. Seperti orang yang mahir mengetik, belum tentu dapat dikatakan mahir menulis berita, apalagi sastra.
Keterlibatan orang yang mumpuni inilah akan mengubah banyak soal desain grafis, apalagi jika berkenan dengan kepentingan publik. Ia yang paling bertanggungjawab, karena ia mengerti perasaan karya yang diplagiat, paham undang-undang hak cipta, paham karya yang layak diapresiasi dan diletakkan di tong sampah. Atau, ada kemungkinan memang akademisi tidak dilibatkan, karena bisa jadi, keterlibatannya mereka dianggap merubah tatanan yang ada. Entahlah.
Naiga, 25 Nov 2020

0 Comments