Barusaja saya menghadiri suatu acara kepenulisan. Yang materinya pastilah seputar pentingnya ejaan, rajinnya membaca dan rutinnya latihan menulis. Rata-rata memang begitu. Hampir dari kursi ke kursi dari setiap acara, entahlah sebutannya apa, hal itu masih menjadi persoalan dan audience tetap manggut-manggut tercerahkan.


Acara tadi langsung mengingatkan saya atas perkataan Anthony Varallo, editor fiksi CRAZYHORSE, "pertama-tama, cek ejaan, tanda baca dan penggunaan kalimat dalam tulisanmu. Dan kalau kau ingin menulis fiksi, kau juga harus membaca fiksi," dan berikutnya dan seterusnya. Lalu penulis sekaligus profesor di US itu menjawab pertanyaannya sendiri, "mengapa kita harus melakukan itu berulang-ulang? Karena menulis adalah sama halnya dengan bekerja."

Jika melihat saat ini, kita seperti tidak menempatkan kepenulisan sebagai suatu profesi yang ada SOP nya jika itu di dalam perusahaan.

Barusan dijelaskan oleh -saya memanggilnya mas- Royyan Julian, bahwa itu menjadi generik problem. Ya saya akui kebenarannya. Jika tidak, mungkin Ruang Kita akan memberikan tema yang lebih bagus. Pertimbangannya besar. Untuk saat ini masih layak, karena memang soal ejaan dianggap belum tuntas sepenuhnya. Berkutat pada ejaan dan cara sambung-menyambung kalimat adalah perkara berat yang prinsip. Dan jika itu belum teratasi, membuat diskusi kita statis. Selalu begitu. Belum bicara detail penguatan karakter tulisan, pembukaan kalimat yang mengejutkan atau tehnik 3M: membaca, menulis dan menyunting. Atau jangan-jangan, Ruang Kita akan memberikan kejutan nanti?

Saat asupan kebutuhan seputar kepenulisan masih soal tehnik, ada indikasi besar kurang keseriusan kita terhadap "dunia ini", dunia yang kata pemateri barusan tidak membuat kaya, tidak sepadan dengan rasa sakit untuk sejudul puisi. Apalagi persoalan kepenulisan dianggap selesai ketika menghadiri pelatihan, seminar atau apapun itu, hanya diakhiri dengan photo-photo dan tepuk tangan. Ini soal mindset. Tahapan gemar mendengar, menyimak masih lebih kuat ketimbang melakukan aksi nyata: menulis. Berapa penulis di Pamekasan dalam satu tahun ini? Lebih dari sepuluh?

Barusan mas Royyan juga menyinggung, anggapan bahwa tulisan di sosial media adalah bukan 'menulis' yang dimaksud. Itu hanyalah bahasa verbal yang ditulis. Saya pikir bergantung tulisannya. Meskipun yang saya lihat sosial media, tempat orang curhat dan memberi pengertian. Tentu tatabahasa kepenulisan tidaklah sebebas itu. Gunawan Wiradi sangat mangkel dengan persamaan itu. Ia berkata, menulis itu bukan bicara, membaca bukan mendengar. Menulis bukan untuk membuat orang mengerti, melainkan untuk membuat orang berpikir. Menulis adalah cara mengajak untuk berpikir.

Bukan hanya menulis, membaca membutuhkan pikiran. Harusnya persoalan tehnik sudah selesai dengan kita rutin membaca koran dan buku-buku. Harusnya gagasan dalam forum adalah gagasan yang upgradetable. Bukan lagi tentang apa saja yang perlu berawalan kapital dan sehabis tanda tanya perlu titik atau cukup.

Tetapi, hadirnya ruang seperti Ruang Kita dan ruang-ruang lainnya, akan memberi banyak perubahan. Baik itu materi dan mindset kepenulisan. Karena penulis memerlukan efford yang besar, skill menulis tidak akan muncul dengan sendirinya, seperti batang-batang rumput yang tumbuh di awal musim penghujan. Dan komunitas seperti ini menjawab bahkan melahirkan itu.

Kamar, 21 Nov 2020