Industri pertelevisian ternyata lebih aman dikonsumsi dari pada konten-konten yang disediakan Youtube, apalagi Tik Tok. Keseimbangan pikiran lebih terjaga dengan menonton berita kriminal, rekomendasi wisata, serial kartun, berita politik dan sinetron membosankan di Tv, ketimbang belajar joget atau menyaksikan jogetan yang membuat mata tak ingin lelap di malam hari.

Secara serius, benda yang disebut Kotak Pandora oleh Azyumardi Azra ini jauh lebih aman ketimbang tontonan platform digital yang lebih akselerate, lebih variatif dan lebih bebas. Coba kita perhatikan, keterbatasan (baik program dan waktu) dan kekakuan TV, nyaris dijawab oleh digitalisasi: youtube dalam hal ini. Di platform digital, kita bisa menonton konten berulang kali semau kita, bebas memilih genre apapun yang kita suka, dan bahkan mengomentari tontotan itu sendiri bersama orang yang mengunggahnya. Keterbatasan dan kekauan menjadi lenyap.

Televisi tidak memberikan itu. Saya masih ingat, bagaimana saya harus menghafal hari dan jam Hey Arnold, serial kartun detektif yang tayang sepulang madrasah. Saya harus memastikan setiap sore, sudah duduk termenung di depan televisi, dan akan marah jika ada yang mengambil remote dan mengganti dokumenteri ikan laut. Saat  sehabis mandi, masih berdiri di depan TV menonton Tom & Jerry-nya William Hanna dan Joseph Barbera, hingga lupa diri, dan ditegur untuk segera pakai seragam dan berangkat ke SD.

Bicara tayangan, saat ini, kita cukup mampu memanggil ingatan masa lalu dengan adanya digitalisasi. Mudah. Cukup input keynote sinetron Tersanjung atau tokoh Mandra di Si Doel Anak Betawi dengan tertawa khas dan rambut dekilnya itu. Bahkan film yang lebih tua dari itu sekalipun, masih bisa kita temui. Digitalisasi dengan kurun waktu yang singkat, mampu mengembalikan waktu yang seharusnya mengendap, usang dan berada di pembuangan akhir, menjadi bisa disaksikan kembali.

Lalu adaptasi-adaptasi bermunculan dimana-mana. Terkadang sebagian menganggap ini tabu dan mengganggu ekosistem industri kreatif. Di TV pernah ada reaction video, yang lahir dari reality show Jepang pada tahun 1970-an, lalu ia diterjemah-ulang oleh konten kreator seperti Chandra Liaw dan Picky Picks tanpa perlu mendirikan stasiun televisi dan meng-hire mahasiswa lulusan pertelevisian dengan gaji UMK setempat. Tidak usah!

Pereduksian itu terjadi dalam sejarah pertelivisian. Seperti Tonight Shownya-VinDest, diadaptasikan dari program Tv di New York, The Tonight Show Starring-nya Jimmy Fallon, program dengan mengundang bintang tamu untuk mengulas kehidupannya sambil bermain Jajuli ini berawal dari Tv: NET Tv, tetapi kemudian, suka atau tidak, ia (harus) menjadi bagian dari masyarakat digital: Netmediatama on Yt. 

Lalu sampai disinu, apakah mereka (keduanya: Tv dan Yt) sama? Tidak, Tv tidak bisa sepenuhnya penonton kendalikan, seperti bagaimana penonton Youtube lakukan. Berkat Yt, orang bebas menjadi producer dan musisi dadakan. Kebebasan lainnya, mulai dari yang remeh seperti pause, download, upload ulang (reupload), video reaksi dan Re-Edit menjadi keterbatasan Tv. Penonton tidak bisa melakukan hal demikian, kecuali tayangan di Tv tersebut diunggah dan dipindah oleh si provider kita ini ke Yt, seperti artis-artis Tv yang membawa masanya ke Yt. Tv Youtube. 

Itu sisi menariknya, sisi gelapnya, ketika semua orang bebas menonton, berkomentar, membuat bahkan menilai, apakah tidak dikhawatirkan sebagai cermin retak akademisi soal multimedia. Value. Akibat hegemoni. Apakah ini akan melahirkan ekosistem lebih baik dari sebelumnya, utamanya dalam mindset bermedia?

Jangankan itu, kebebasan yang bisa membuat jurang kecil yang semakin besar, adalah ketika mindset rekaman bunga anggrek atau sapi yang sedang istirahat, di suatu pagi, lalu diposting dengan judul yang serba provokatif, dipaksakan layak, demi engagement, demi reach. Sehingga hal detail seputar multimedia, baik yang dilakukan oleh Tv dan Yt, atau bahkan tujuan adanya ‘media’ akan diabaikan dan tidak fungsional. Karena, semisal yang dianggap penting hanyalah ketenaran dan trafik, yang terobsesi atas adsense, maka jangan salah, jika mindset multimedia berakhir menjadi bahan dagangan dan di luar akal sehat. 

Kamar, 24 Nov 2020