Saya tidak tau cara menulis dengan baik dan benar. Yang saya tahu, menggerakkan tangan di atas mesin ketik, lalu perlahan biarkan isi kepala ini bicara. Seperti selang. Tidak peduli apakah kalimat yang terbuat sudah sesuai dengan kaedah jurnalistik atau bukan.
Yang paling sederhana, seperti menulis apa yang sedang dirasakan. Banyak pemain musik jalanan, bermain dengan harmoni yang membuat pengendara motor terhibur, atau kejengkelan melihat sampah-sampah dan otoritarian satpol PP dalam menindak, memburu orang tak bermasker di jalanan laiknya penggembala itik. Ini kegelisahan. Ini bisa dituangkan menjadi catatan.
Hingga ke yang paling pelik. Seperti, setidaknya Pamekasan, yang telah cukup lama menyandang kota Pendidikan mempunyai nilai jual untuk orang-orang dari luar pulau bersekolah ke sini. Bukan orang sini bersekolah ke luar. Sistem zonasi, anggaran internet untuk siswa selama pandemi, atau kinerja dinas-dinas yang lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ini juga tak kalah penting, paling tidak rumus sedehana filsafat: skeptisisme, terpakai.
Atau, sesuatu yang nyaris tak terjelaskan oleh akal. Post truth, menjadi suatu kata yang bisa mengecoh dan sekaligus meninabobokan. Apapun bergantung oleh apa yang ingin kita sukai. Kebenaran adalah pilihan subjektif. Ada kenyataan yang benar dan salah, yang kaprah dan kurang ajar, yang sopan dan yang "uedan". Tapi post-truth hanya menawarkan. Dan kita bebas memilih jenis pihak yang kita sukai. Bisa karena secara politis, konservatisme, liberalisme dan termasuk materiil. Ini lebih dari pelik. Dan nyaris tak terjelaskan oleh akal.
Lalu tidak semua yang ada di pikiran ini, utuh untuk dijadikan catatan. Catatan tidak membantu menggubah sejarah. Pegiat sejarah, kata Pak Goen, selalu bisa penggubah origami. Catatan bicara pada masa ke masa. Memang. Dan bisa tidak mengubah apa-apa. Selain sesuatu yang mengiris pikiran dan menguras nurani.
Jika kegelisahan itu bisa ditakar, dan ujung hati ini bisa diubah bentuk menjadi cangkir, persis seperti air mancur di taman playground sekolah TK sebelah. Meluap dan tak terwadahi.
Pamekasan, 21 September 2020

0 Comments