Tadi siang saya pergi ke tempat teman lama saya. Disana saya menemukan merpati naik-turun dari kandangnya, menjemput makanan, menggoda manusia untuk menyentuh bulu indahnya yang lembut dengan warna yang memesona. Kadang saya tertegun saja, mereka adalah mahluk yang sama sekali tidak pernah berpikir untuk, “esok makan apa?” atau “jika tidak bekerja, bayar tagihan listrik dan cicilan motor gimana?” kecemasan-kecemasan itu seringkali mampir di setiap kepala saya.

Merpati-merpati itu hanya terbang, masuk dan keluar lewat pintu yang tak terlalu besar, dan akan mampir jika ada majikannya membawa biji-bijian sejenis jagung dan lainnya tanpa takut. Mereka hanya akan mati jika berkelahi dengan ular atau dibegal anak-anak tetangga untuk dimakan. Ya memang, sungguh Tuhan selalu indah menciptakan setiap detail makhluknya! Bahkan untuk sebuah pelajaran hidup.

Merpati dan majikannya yang saya lihat siang itu, mengingatkan saya kepada kajian Dr. Muhammad Yahya, ketika menyampaikan materi Loyalitas Kebudayaan. Meskipun beliau tidak mencontohkan merpati sebagai objek pembahasan, melainkan kuda karena waktu itu ia membahas surat Al-Adiyat (kuda yang berlari kencang), paling tidak ingatan saya terpanggil untuk satu pelajaran ini: kuda dan majikannya, yang tertulis di dalam Al-Quran mengenai kebudayaan Jazirah Arab.

Surat Al-Adiyat, bercerita tentang kuda-kuda yang ditunggangi, berlari dengan sangat kencang. Masuk ke wilayah musuh di saat pagi buta hingga kaki-kakinya memercikkan api. Mereka menerobos gelap dan ketakutan. Mereka mejalani perintah yang menunggangi, bak prajurit perang. Kuda-kuda handal ini melakukan apapun bersama tuannya, dan siap membabat musuh-musuh di depannya. Sungguh ini mengancam kuda-kuda dan tuannya.

Di awal-awal, kisah tersebut susah sekali saya cerna. Perihal kuda yang merelakan dirinya mati demi tuannya. Tanpa takut mati. Masuk ke medan musuh bersama tuannya. Tetapi lambat laun saya mulai mengerti, kisah kuda di Arab yang diceritakan surat Al-Adiyat, tidak jauh berbeda dengan merpati-merpati milik teman saya ini. Ya lihat saja, merpati ini tidak kabur padahal kakinya tidak diikat. Merpati-merpati ini pasti pulang ketika gelap datang. Terkadang, kata teman saya, mereka masuk ke sela-sela rumah dan duduk di atas pundaknya yang sedang membaca buku atau menonton tv. Dan itu tidak akan terjadi kepada orang lain.

Mungkin iya, bahwa semua mahluk mengerti apa itu arti loyalitas.

***

Kurang lebihnya, merpati itu tunduk kepada siapapun yang memberinya makan, memberinya kasih dan sayang. Merpati tau jika manusia A ini datang, maka ia akan melemparkan jagung ke tanah. Merpati ini mengerti, jika manusia A ini pergi, ia pasti akan kembali dan membawakannya air. Merpati ini mengerti bahwa kehadiran manusia ini tidak mengancam, apalagi menyakiti. Sehingga para merpatipun mau berbicara dan tinggal di pundak majikannya tanpa takut.

Saya pikir surat Al-Adiyat ingin mengajarkan manusia, lewat kuda, untuk rajin-rajin bersyukur. Di surat Al-Adiyat, binatang cukup mengerti tentang loyalitas, binatang cukup mengerti tentang berterima kasih, binatang cukup mengerti tentang berpamrih kepada siapa yang merawatnya, yang mengasihinya, yang membesarkannya, yang mencintai apa dan adanya. Itu binatang, bagaimana dengan manusia?

Selebihnya, saya harus ke kantor melanjutkan pekerjaan dan tanggung jawab saya. Saya pamit ke teman saya sambil tersenyum dan berpikir, “Mungkin Tuhan ingin mengajarkan saya lewat merpati indah ini”

 

Kantor KMavis Official, 21 Agustus 2020