Sore ini saya kembali membuka buku Memikirkan Kata, kolaborasi karya penulis ternama seperti Virgiana Wolf, Ernest Hamingway, Gabriel Garcia M dkk. Tidak ingin bermaksud menenteng buku setebal 500 halaman ini ketika saya duduk di tempat kopi.

Di tempat kopi ini lebih banyak orang mengobrol dan saya sedikit heran mengapa pembicaraan mereka tidak terganggu dengan musik yang begitu kencang. Musik rap. Yang hanya segilintir orang saya kira, yang demen musik jenis ini. Sebagian yang lain bermain game. Sangat bisa dipastikan, ketika mereka merotasi, menjadikan Hp nya landscape sambil berbicara dengan orang yang bukan di depannya. Jenis permainan apa yang harus orang seperti itu, anda bisa menebaknya sendiri.

Tempat ngopi ini cukup ramai, lebih ramai daripada kafe Manifesco dengan konsep buku dan musik, yang saya tulis kemarin. Disini tidak ada gitar, apalagi buku. Hanya kursi kotak-kotak terbuat dari kayu dan hanya angin sepoy-sepoy dari bagian utara. Apalagi ketika malam minggu, kafe ini sesak dengan pemuda-pemudi bersama pasangannya sambil melingkar-melingkar. Jika tidak mengobrol, pastilah bermain game. 

Keseringan saya untuk berandai ternyata menjadi sesuatu yang candu. Saat membaca buku tentang tehnik menulis dan sejarah orang besar, dalam melawan dirinya sendiri, saya jadi terhenti sejenak dan teringat kafe ini. Mungkin iya,