Saya yakin setiap orang menyukai keindahan. Seperti keindahan pantai yang pasirnya putih, menghadap gunung, dan akan ada senja indah di setiap sore lalu orang-orang kegirangan untuk membuka kamera dan mulai menunjuknya. Atau sebuah lukisan Salvator Mundi karya Leonardo Da Vinci senilai Rp. 6,1 Triliun. Yang untuk sebuah lukisan, sebuah keindahan, jauh lebih mahal dari harga-harga apartemen termewah di Jakarta.
Ini mungkin adalah keadaan buruk, ketika kita harus menerima perbedaan seorang dalam menentukan keindahannya masing-masing. Ya pasti tidak sama, dan yang menjengkelkan, keindahan tidak ditetapkan kriteria dan jenisnya. Tidak seperti hukum, yang jika seorang melakukan kesalahan A maka akan dijerat hukuman seberat B. Atau matematika dengan rumus-rumusnya.
Saya sering sekali berseteru hanya gara-gara "keindahan". Tata letak penempatan ketika saya melayout koran di tempat saya bekerja bukan sesuatu yang mudah ketika ia menjadi karya yang tidak indah bagi orang lain. Ada saja, tentang pemilihan warna, font, size gambar hingga satu sama lain, ngotot dan suasana kantor menjadi dingin seketika.
Keindahan bisa merusak hubungan seseorang.
Di luar itu, keindahan bukan hanya perihal pemandangan panorama dan karya lukis, atau tata letak koran. Secara umum seni adalah ekspresi keindahan. Seperti beat dalam musik, abstrak di dalam seni rupa, lakon, koreografi hingga kerajinan daerah dan sastra di dalam tulisan. Mereka adalah seni. Bahkan setiap hari kita bersinggungan. Apa musik kesukaan yang sering didengar, atau gambar wallpaper yang kita pilih, karena tentu menurut kita itu indah. Dan saya lebih nyaman dengan sandal dari pada high heels karena jika jatuh harus ke tukang urut.
Tetapi terkadang kebebasan menentukan keindahan menjadi terbatas oleh datangnya industri. Produk kecantikan mencoba memberikan definisi dengan cara di luar pendidikan. Industri kecantikan mengerucutkan definisi cantik dengan memberikan prototype. Menjadi putih dan kurus. Lalu ia menjadi jargon iklan, diulang-diulang, setiap hari kita menemukan label putih dan kurus itu. Sehingga secara tidak sadar ia masuk ke alam bawah sadar, dan perempuan yang sepakat bahwa cantik adalah putih dan kurus. Lalu yang gendut menyisakan gajinya untuk nutrisi makanan dan skincare di luar tagihan kosan dan listrik.
Tidak hanya soal berpakaian. Motor apa yang kita punya dan semakin mahal gadget akan menberi rasa percaya lebih karena gadgetnya dipakai Afgan atau Chelsea Islan dan kecenderungan indah lainnya yang atas pengaruh industri. Industri akhirnya berani melabeli keindahan, yang tujuannya untuk membuat dagangannya laku.
Saya terkadang geli ketika seseorang terlalu euforia dalam memandang keindahan. Ada yang memberi sekat. Karena ukuran badannya tidak sama, atau make upnya bukan wardah. Ada yang memilih berteman dengan sesama pecinta kucing berwarna merah atau akan menghate saat yang beda aliran meretwit tentang ideologi. Sampai disini, keindahan menjadi ajakan perang. Yang berkat trend dan mode. Semua orang bisa kehilangan akal sehatnya.
#memanggilingatan
Faiqmohammad, 11 Agustus 2020
Di luar itu, keindahan bukan hanya perihal pemandangan panorama dan karya lukis, atau tata letak koran. Secara umum seni adalah ekspresi keindahan. Seperti beat dalam musik, abstrak di dalam seni rupa, lakon, koreografi hingga kerajinan daerah dan sastra di dalam tulisan. Mereka adalah seni. Bahkan setiap hari kita bersinggungan. Apa musik kesukaan yang sering didengar, atau gambar wallpaper yang kita pilih, karena tentu menurut kita itu indah. Dan saya lebih nyaman dengan sandal dari pada high heels karena jika jatuh harus ke tukang urut.
Tetapi terkadang kebebasan menentukan keindahan menjadi terbatas oleh datangnya industri. Produk kecantikan mencoba memberikan definisi dengan cara di luar pendidikan. Industri kecantikan mengerucutkan definisi cantik dengan memberikan prototype. Menjadi putih dan kurus. Lalu ia menjadi jargon iklan, diulang-diulang, setiap hari kita menemukan label putih dan kurus itu. Sehingga secara tidak sadar ia masuk ke alam bawah sadar, dan perempuan yang sepakat bahwa cantik adalah putih dan kurus. Lalu yang gendut menyisakan gajinya untuk nutrisi makanan dan skincare di luar tagihan kosan dan listrik.
Tidak hanya soal berpakaian. Motor apa yang kita punya dan semakin mahal gadget akan menberi rasa percaya lebih karena gadgetnya dipakai Afgan atau Chelsea Islan dan kecenderungan indah lainnya yang atas pengaruh industri. Industri akhirnya berani melabeli keindahan, yang tujuannya untuk membuat dagangannya laku.
Saya terkadang geli ketika seseorang terlalu euforia dalam memandang keindahan. Ada yang memberi sekat. Karena ukuran badannya tidak sama, atau make upnya bukan wardah. Ada yang memilih berteman dengan sesama pecinta kucing berwarna merah atau akan menghate saat yang beda aliran meretwit tentang ideologi. Sampai disini, keindahan menjadi ajakan perang. Yang berkat trend dan mode. Semua orang bisa kehilangan akal sehatnya.
#memanggilingatan
Faiqmohammad, 11 Agustus 2020

0 Comments