Sepulang kerja saya pergi ke salah satu kafe di Pamekasan. Ya benar dugaan Anda: saya ingin menemukan suasana, dimana hanya ada ketenangan, musik dan aroma kopi. Selain itu, kecenderungan untuk hanya duduk-duduk dan membuang waktu dengan sia-sia sudah tidak dapat dibendung lagi, yang sebagian orang menyebutnya mager, gabut atau malas-malasan. Terserah.


Saya memilih kafe dengan konsep, dimana buku-buku apalagi sastra dipajang persis seperti di toko buku. Bedanya, hanya saja buku itu tidak untuk dibeli apalagi dibawa pulang, cukup dibaca di tempat dan dikembalikan kemana asal buku itu bermula.

Ya benar, ada banyak buku disini, dan bukunya bagus-bagus untuk nutrisi otak kita. Mulai dari buku Ernest Hamingway, Pramodya Ananta Toer, cerpenis senior seperti Agus Noor atau Mario F. Lawi, penulis puisi hingga ke komik dan cerita legenda untuk pengantar tidur. Artinya, kafe ini cocok sekali untuk para penulis, dan penggemar novel.

Selain buku yang menjadi konsep utama, terlihat lukisan abstrak memanjang di beberapa dinding. Konsep bangunan industrial, memakai kombinasi besi dan kayu, yang kadang tempat ini dipakai untuk kegiatan kajian, diskusi, festival, termasuk reuni dan perayaan ulang tahun teman satu kelas. Hampir secara konsep, tempat ini tidak memiliki cacat. Kecuali tempat parkirnya yang belum tertata rapi. Tapi sebenarnya, kafe-kafe yang lain lebih tidak tertata rapi tempat parkirnya.

Dengan konsep buku dan tempat nyaman. Nyaman bukan sekadar ketika hujan tidak basah atau ketika terik tidak panas, tetapi nyaman yang saya maksud adalah interior seperti kursi dan sofa yang lebih dari sekedar cukup, bahkan bagus untuk kalian yang gemar photo, dan yang terpenting adalah kebersihan disini, menjadi sesuatu yang diproritaskan selain pelayanab. Artinya, tempat ini cocok apalagi untuk kehidupan urban.


Saya bisa sangat membayangkan, jika seorang bersungguh ingin menyelesaikan skripsi, menulis novel atau brainstorming tentang kepenyairan, tidak ada tempat paling cocok dari pada tempat ini, termasuk perpustakaan daerah di pamekasan sendiri (terakhir saya kesana, saya langsung keluar karena buku mata pelajaran yang terlalu banyak, tidak ada bedanya dengan sekolah SMA).

Bahkan di kafe itu menyediakan laman yang memuat tulisan-tulisan seperti opini dan sastra. Disediakan untuk siapapun yang ingin menulis, mengasah kemampuan kepenulisannya, dan bagi tulisan yang lolos, dibayar. Enak kan? Lalu bayangan itu semakin jadi saja, seperti "Pamekasan bisa melahirkan penulis hebat dari tempat ini, tanpa harus ikut program Pemakasan Menulis sekalipun!"

Meskipun saya tahu bahwa tidak semua yang ada di bayangan kita itu mudah terjadi. Siapa tahu saja.

Seperti sore ini, pengunjungnya hanya beberapa. Dua orang, lelaki dan perempuan, rupanya mereka sudah menikah karena perut perempuannya buncit, duduk sambil tertawa di bawah payung besar. Di ujung, lelaki sibuk mengetik dan di telinganya headset menempel. Tidak ada lagi. Kecuali pelayannya yang hanya duduk termenung. Ia akan bergerak ketika ada orang di depannya dan bersuara, "mau pesan apa mbak?"

Saya, tentu juga anda, ingin kota ini maju. Tapi ya bagaimana. Kafe dengan konsep buku seperti ini yang seharusnya menjadi kafe favorit, orang datang kesini untuk menyelesaikan cerpennya Ahmad Tohari, orang tidak ingin cepat-cepat pulang karena diskusi tentang Derida belum kelar atau apapun dengan alasan karena belajar, membaca, diskusi, main musik, atau sekadar baca puisi. Bukan kayak gini. Sepi!

Manifesco, 17 April 2020