Terlepas dari ajakan dia menemani mengambil baju, muncul di dalam benak saya, mengapa lebaran identik dengan baju baru?
Kita sering bahagia di hari-hari sebelum lebaran tiba. Seperti karena mendapatkan THR, baju baru, cuti kerja dan pergi jalan-jalan ke luar kota di hari itu. Ya semua tahu rasanya seperti apa mendapatkan itu semua.
Sehingga, tanpa perlu dicari alasannya lagi, common sense itu muncul. Waktu merekontruksi budaya. Jika tiba di waktu A maka budaya B akan muncul juga. Jika lebaran sebentar lagi, amplop THR disediakan dan harga daging naik pesat. Seperti momen lebaran yang kita tidak tahu mengapa 'budaya' serba baru ini muncul.
Saat-saat lebaran adalah saat baru. Selain pakaiannya, silaturrahmi keluarga sambil berucap maaf satu sama lain terjadi di setiap rumah-rumah. Saya senang di bagian ini. Seolah menjadi cut off, bagian ini dosanya sudah dimaafkan. Dan besok pagi memulainya dengan nol atau lembaran baru. Tapi saya tidak yakin seperti itukah cara Allah menilainya.
Lalu biasanya, dapur mengepulkan asap aroma opor ayam dan ketupat. Juga rendang dan nasi jagung. Di rumah, ibu sering membuat pentol dan soto ayam. Tetanggaku hafal, jika ingin makan pentol saat lebaran, ya ke rumah Faiq saja!
Selamat Hari Idul Adha.
Saya banyak salah ke kalian, jadi maafkanlah saya.
30 Juli 2020
0 Comments