Memang benar. Rumah itu milik kami dan juga telah lama sekali tidak ditempati. Bahkan enggan untuk dikenang. Terlalu banyak kenangan pahit yang almarhum bapak tinggalkan. Itupun jika ia menyadari. Seperti saat manusia lain masih hidup, bahwa seorang yang matipun masih bisa menyesali apa yang ia lakukan. Tetapi tidak bisa untuk memperbaikinya.
Siapa yang menjamin, bahwa kasih sayang selalu dimiliki oleh seorang bapak?
Ingatan terakhir waktu itu. Malam itu aku tinggal sendirian di rumah. Ibu bermalam di rumah nenek, dan adikku ikut. Aku terbiasa tinggal di rumah sendirian.
Tiba-tiba aku terbangun dari pulasnya tidur akibat suara orang tertawa terbahak di ruang tamu: bapak dan teman-temannya. Sudah biasa aku melihat mereka-mereka bermain ke rumah. Sambil minum dan main geplek. Tapi malam itu beda. Seorang perempuan seumuran aku duduk di atas paha bapak sambil ikutan tertawa. Perempuan yang tidak semanis kincu di bibirnya. Meski rambut sebahu dan hanya kaos singlet serta celana pendek seperempat paha, seharusnya dia tidak hadir mengacaukan semua. Sesama wanita aku hanya menangis. Merasa hina.
Lalu aku keluar kamar, memarahi semua orang yang telah lupa bagaimana menjalankan hidup yang semestinya itu. Aku teriak. Mengumpat bahkan melemparkan beberapa perabotan kepada bapak, orang tuaku, lelaki yang tak tahu malu kepada jenggot dan warna putih rambutnya. Lelaki yang melecehkan ibu.
Ketika bapak berdiri, menjambak rambutku dan menariknya ke kamar ibu, aku seperti sudah tidak mengenali bapakku sendiri. Dia telah buta hati. Lalu dia menyuruh semua teman-temannya masuk, meminta dirinya ditinggalkan berdua saja denga perempuan itu di ruang tamu. Ada sekitar enam lelaki bertubuh kekar menatapku, yang satu persatu melucuti pakaiannya. Begitupun bapakku bersama perempuan itu.
Ku hanya tersimpuh sambil menangis tak henti-henti, berdoa dan mengingat ibu.
Rumah, 07 Mei 2020

0 Comments