Istilah dominasi dalam pandangan sederhana berawal dari satu kotak pandora yang mengeluarkan bunyi dan gambar bergerak. Itu kata Azyumardi Azra. Di kamus rumah kita, kotak pandora tersebut disebut televisi.

Televisi nilah yang secara berkala menjadi penghubung dalam rangka dominasi lintas budaya, lewat budaya lain, ke budaya kita. Dan begitu hati-hati bahkan tak terasa, karena pergerakannya amat samar.

Mari kita ingat-ingat masa dimana film kartun Jepang: Sincan dan anjing putihnya, Shiro yang seolah mengerti bahasa manusia, menyita waktu untuk tidak main petak umpet. Atau Kapten Tsubasa yang memengaruhi gaya menendang bola bahkan hingga ke potongan rambutnya. Doraemon, si kucing anti tikus, yang hidup semudah apa yang ada di kantong ajaib. Hingga robot-robot dengan kostum warna-warni dan masing-masing kemampuannya, kadang berebut dan berbagi, kekuatan mana yang cocok dengan muka kita. Dan ditutup dengan menyaksikan Ultraman saat mengalahkan monster-monster.



Sepintas kami tentu hanyalah anak kecil, yang pasti masih orang Indonesia. Akan selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya di hari kemerdekaan dengan lagu yang sama. Berideologi pancasila dan tetap bermata uang rupiah. Dan akan selalu menyangkal keras, apabila orang menuduh kita penganut khilafah. Kita Indonesia, kita masih kaya alamnya. Tetapi bukan berarti kita sadar sepenuhnya, betapa televisi itu sangat gampang mencuci otak manusia.

Kini, kotak pandora semakin inovatif saja, sebutannya bisa berupa Youtube atau IGTV. Bukan hanya dari kartun Jepang, all genre pun masuk, termasuk yang bertulsikan 18+, bahkan perempuan kita (indonesia) yang berlebihan mengagumi oppa-oppa korea (ini imbas dominasi). Bahkan dari negara manapun, praktik dominasi masuk. Tidak ada tapal lagi, belahan kehidupan manapun terbuka selebar scroll jari. Digitalisasi bukan hanya mempermudah, tetapi meninabobokan dan memanjakan manusia. (Maka saya sepakat, jika generasi rebahan nomor satu adalah negara ini)

Dunia semakin lama semakin melebar, dengan wajah yang lebih beragam, maka wajah dan ragam dominasipun merajalela. Lahir seorang yang bernama Influencer, selebgram, youtuber, pembagi-pembagi tutorial dan pembuat meme. Dimana mahluk itu bernafas dari putaran angka-angka, menghasilkan angka baru dan hanya seprofesi merekalah yang tahu. Bisa saja, mereka jelmaan dari apa yang disebut "wajah dominasi baru," dalam sebagian rupa. Dan ada rupa lain tentunya, yang lebih menakutkan seperti "misi cuci ideologi!"

Dulu, film-film kartun Asia yang diputar penuh pada hari minggu di televisi, meski telah banyak merubah kebiasaan anak kecil pribumi, tentu tidak sedrastis pengaruh sosial media yang akselerasinya sangat cepat. Ya dulu itu bermain petak umpet dan masak-masak pepaya, tiada lain tujuannya untuk bermain, hiburan, mengisi hari untuk tidak hanya sekolah dan mengaji saja. Tetapi di kehidupan digital, orang senang "bermain konten" karena angka-angka. Seberapa besar angka like, comment, share dan apapun reach bahkan yang menghasilkan uang, adalah kepuasan lain di luar "permainan digital." Dan orang berlomba memperbanyaknya. Hingga menemukan "cara dominasi" lain yang lebih tak kasat di mata.

Jadi, sekarang ini, dimana pun itu, tidak ada yang mau main lagi petak umpet. Ya, tidak ada yang mau. Orang-orang, kini, berbusana k-pop amatiran. Aku bergidik melihatnya.

Rumah, 3 April 2020
Penulis merupakan Layouter Harian Pagi Kabar Madura