Ingat, jangan pulang lewat jam sepuluh. Atau kamu tidak akan mendapati bus sesuai tujuan kau pergi.

Halte terakhir di paling ujung lorong, seorang diceritakan mati tertabrak bus hingga kepalanya pecah terlindes dan tubunya remuk seperti baru saja masuk mesin selip.

Bus yang menabrak tepat pukul sepuluh malam. Waktu itu memang sedang kosong penumpang. Halte yang juga ditabrak tidak rusak bahkan semakin bagus seperti terlihat baru diperbaiki. Tidak ada satu orangpun yang menolong mayay itu. Mayat dan busnya menghilang tanpa jejak. Kata orang, mayat itu mencari mata kirinya yang lepas.

Jadi tidak heran, setelah peristiwa itu, selalu ada bus yang beroperasi pada jam sepuluh ke atas tanpa satu penumpang bahkan sopirpun. Ia berjalan di tengah gelapnya jalan.

Bus yang berjalan sesuai rute dari halte ke halte. Dan di setiap halte akan berhenti empat hingga tujuh menit. Mengangkut atau menurunkan penumpang layaknya bus biasa. Tetapi tidak ada satupun yang naik dan turun.

Setiap jam sepuluh, satpam, preman dan orang yang belum tidur sering melihat bus itu berjalan. Dan selalu lari terseok-seok. Kadang mereka melihat sesosok penumpang yang kepalanya hancur dan bermata sebelah.

"Mengapa mereka lari ketakutan melihatku. Aku tidak menemukan apapun di bus ini. Aku hanya ingin mata kiriku kembali"

Kantor KM, 24 Maret 2020