Siapakah yang tahu nasib seseorang? Bahkan nasibnya sendiri...

Di tempat kita lahir, biasa kita lihat mahluk bernama kunang-kunang. Ia lahir dari sawah. Kunang-kunang selalu keluar bersamaan di kala malam mulai datang. Orang bilang, mereka adalah salah satu cahaya tuhan, atau kuku orang-orang yang telah mati. Bukankah orang mati akan menyatu kepada tuhannya lagi. Lalu menjadi utuh dan berubah menjadi kunang-kunang.

Lalu mengapa kita tidak menetap saja bersama kunang-kunang itu. Mengapa kita mencari nasib lain? dimana saja, nasib tetaplah nasib, tak ada yang tau. Lagipula, bisa saja kunang-kunang hanya ada di satu tempat.

Di luar sana, ada tempat yang lebih indah memang. Ada mahluk yang lebih indah dari kunang-kunang, si jelmaan tuhan. Dan ia adalah buatan tangan manusia. Jika kalian ingin kesana, cari dan tanyakan ke orang-orang, kemanakah arah menuju kota? Maka semua orang pastilah tahu itu. Maka pergilah, tinggalkan sawah dan sapimu. Maka kau akan melihat tempat yang selalu menyala-nyala dan menyimpan rahasia keindahan.

Tetapi, pesan kita, janganlah kau kesana untuk merubah nasib. Itu sia-sia.

Lalu kau disana bisa membedakan apalah arti hidup. Dan betapa orang-orang adalah ciptaan tuhan yang lebih baik dari kunang-kunang. Mereka adalah ekspresi tuhan yang lain. Kaya yang sopan, atau kaya yang sombong. Si miskin yang bekerja keras, atau yang sabar setiap saat. Yang miskin dan sombong itu adalah ekspresi tuhan lain yang menakutkan. Tetapi, seperti pesan kita kepada kau, bisakah kau berpikir untuk tidak merubah nasib? Termasuk apakah kau kaya atau miskin kelak? Jangan!

Kau belum mengenal kita tentunya. Kita sama-sama lahir dari desa, seperti kau. Kita tahu rasanya bermain di sawah sambil mengembala sapi. Kadang kita menaiki sapinya hingga ke kandang. Kita dan kau adalah sama. Tetapi, kita keliru, kita ke kota untuk mengubah nasib, mengubah hal yang tak pasti.

Kau tahu cahaya yang kuceritakan tadi? Bisakah kau rasakan itu? Ketahuilah, bahwa kita adalah manusia yang paling sering melihat cahaya itu. Di bawah bias cahaya, selalu kita temukan kesepian. Dan cahaya itu semakin indah tatkala sunyi di waktu dini hari.

Perkenalkan satu persatu. Kita yang di atas got, bermata teler dan bermulut keras. Akan menggangu jika ada yang lewat, seperti mengambil harta benda, atau bersiul-siul jika yang lewat adalah perempuan malam. Atau, kita yang memungut-memungut sampah, mencari benda terbuat dari besi, plastik atau kertas, lalu menggendong dan membawa sebanyak-banyaknya, supaya ada jatah dua bungkus nasi uduk esok. Atau kita yang di tepian sana, dengan rok mini dan parfum serta pakaian seksi lainnya. Renyah rasanya berada di pangkuan pria-pria itu. Mereka menukar uang dan istrinya, demi kita, demi tubuh kita ini. Atau, kita yang bermusik, yang lebih khawatir apabila salah satu senar gitar putus, dari pada pakaian yang sobek. Ya, lebih khawatir ada mobil petugas dari pada tidak makan seminggu. Kita adalah pemilik dini hari. Dibawah cahaya yang kau dengar itu.

Dan setiap dini hari, kau bisa menemukan kita!

Dan orang yang lain, yang telah cukup hidupnya, yang telah tuhan pilih untuk menjadikannya hidup nyaman. Punya rumah, mobil mewah. Tengoklah! dini hari adalah waktu dimana mereka bisa menemukan manusia seperti kita-kita. Manusia yang memilih menjadi kita karena tidak ada pilihan lain.

Janganlah ke kota hanya untuk mengubah nasib!

Rumah, 21 Februari 2020