Di belakang rumah itu, ada sawah membentang sangat luas. Ya, sangat luas. Tidak ada tempat yang lebih luas dari itu. Aku akan setuju jika ada orang dewasa mengatakan, "tiada tempat di muka bumi ini yang luasnya mengalahkan lapangan Rumah Bebuyut". Aku akan mengangguk meyakinkan orang-orang.
Namanya adalah lapangan Rumah Bebuyut. Lapangan itu, pernah menjadi tempat penjajah melatih prajuritnya. Kata Datok Mesa, "dulu itu nak, ada tank, pesawat, dan tentara. Mereka buanyak buanget" sambil dia mengespresikan dengan tangannya, sambil juga kita menganga kagum. "Eits. Tapi jangan senang, mereka itu datang bukan sekadar latihan!". Maka mulut kita menganga lebih lebar.
Di lapangan Rumah Bebuyut itu, selalu terdengar bunyi mesiau. Seperti melempar petasan ke langit. Dan memecah bumi. Mengirim sinyal ketakutan yang mendidih. Kadang bunyi itu, kata Datok, membuat para buyut gelagapan. Mereka meringgis. Mereka selalu menutup telinga-telinga anaknya yang menangis histeris. Atau mereka akan tetap menangis berhari-hari.
"Dimana buyut kita tinggal datok?" Salah satu dari kita nyeletuk.
"Ya tinggal...."
"Dulu buyut kalian tidak tinggal di rumah seperti kalian-kalian ini. Mereka sembunyi di bawah sumur yang tak satu orangpun tahu. Gelap. Melebihi gelapnya rumah saat listrik mati!" kita menganga lebih lebar dari sebelumnya.
Kata datok, buyut kita adalah pejuang. Mereka rela pergi ke hutan, mencari jantung pisang, ketela, singkong atau kelapa, untuk dibawa pulang ke sumur. Ada istri dan anak-anak yang menunggunya. Terkadang, salah satu di antara mereka tidak kembali. "Jika tidak dimakan binatang buas, mereka ditembak prajurit".
"Berarti, kita harus lawan penjajah!". Namanya Mamat, dia masih kelas tiga, tapi nilai Kewarganegaraannya selalu memdapat pujian dari Bu Marta. Melihat itu, Datok hanya geleng-geleng.
Setelah itu, karena banyak keluarga yang dirasa menghilang tanpa sebab. Kemudian, mereka yang di bawah sumur mengambil tindakan. Para lelaki dan perempuan, meninggalkan anak-anaknya. Mereka berpesan: "nanti bapak dan ibu akan kembali membawa makanan yang lebih banyak dari biasanya. Kalian tunggu, dan jangan pernah keluar hingga kapanpun. Mengerti?" Lalu mereka pergi. Dan sejak saat itulah mereka tak kembali.
"Kemana Tok?"
Datok hanya tersenyum berlinanglah air mata tuanya.
Karena ceritanya telah usai, dan maghrib telah berkumandag, lalu kita pulang setelah menyelesaikan surat Yaasin dan mendoakan buyut-buyut kita yang berada di pemakaman ujung lapangan itu.
Dalam benakku: Padahal ada yang Datok sengaja tidak ceritakan. Bahwa banyaknya buyut yang tewas, adalah seluas lapangan itu.
Nirwana Kafe, 22 Februari 2020

0 Comments