Bangunan besar itu adalah milik si penjahit tua. Tidak ada orang yang tahu kematiannya apa, tetapi ada baju anak kecil menggantung di atas mesin jahitnya.

Bangunan besar kemudian dibeli oleh orang kaya dan ia menjadikannya tempat karaoke. Tempat karaoke itu menjadi sangat terkenal di masanya. Bangunan yang sangat strategis. Ia berdekatan dengan pusat kota. Hanya dengan berjalan kaki ke arah timur, sudah bisa menikmati keindahan taman dan mencicipi aneka jajanan kuno yang pelayannya adalah ibu-ibu yang biasa tersenyum. Atau tempat belanja lain.

Seiring berlalu, tempat karaoke akhirnya ditutup karena terlalu banyak kasus. Lalu orang lain membelinya, menjadikan bangunan itu pusat bisnis. Ganti pembeli, menjadi tempat les, ganti pembeli lain, menjadi kosan putri, posko keamanan, tempat billiyard, hingga pembeli yang terakhir menjadikannya kantor pos. Mantan pembeli-mantan pembeli hanya bisa bertahan dua bulan, kecuali pembeli terakhir.

Aku tidak mengerti saja, orang tidak ada yang mau membeli bangunan itu lagi. Kantor pos adalah tempat terakhir bangunan itu. Ia dipakai selama kurang lebih setengah tahun. Lihatlah, lambang kantor posnya masih ada, mentereng dibungkus neonbox, tetapi lampu-lampunya dicuri preman jalanan. Beberapa fasilitas kantor diambil oleh orang tak dikenal. Hanya tersisa lampu dop kuning di depan pagar berdekatan dengan pohon besar.

Cat yang telah pudar. Kaca-kaca jendela yang pecah, genting-genting yang berjatuhan, pagar-pagar yang berlumutan dan keramik-keramik yang ditumbuhi rumput hingga membuatnya tertutup. Bangunan besar itu kini sangat rapuh. Hal ini membuat bangunan seperti kuburan yang beraroma apak. Bagi orang-orang tempat ini adalah angker. Tetapi tidak bagiku!

Banyak rumor beredar di rumah-rumah, dari mulut ke mulut. 

Salah satu karyawan bercerita bahwa ketika dirinya mengantarkan paket sepatu dan tas anak-anak, dalam perjalanan, paket tersebut beraroma bangkai. Dia membukanya, sepatu dan tas itu berubah menjadi kepala dan tangan manusia dengan darah yang masih segar. Salah satu tetangga mendengar baku tembak tengah malam dari kantor pos itu, tetapi lenyap seketika setelah warga mendatanginya. Pekerja asongan tidak lagi mangkal di depan kantor pos itu, lantaran mereka mencium bau amis seperti bangkai yang datang dari dalam jendela. Hingga, orang-orang meyakini bahwa ada hantu pengambil mayat menghuni bekas kantor pos.

Yang terakhir kudengar, orang-orang dengan rasa takut bercerita, bahwa sebagian warga telah melihat sosok lelaki yang masuk ke bekas kantor pos itu. Memakai tongkat, mengenakan jubah dan berjalan mengendap-ngendap tengah malam. Kadang tak sampai pintu, ia lenyap begitu saja dan tiba-tiba sudah berada di atas atap mengayunkan kedua kakinya. Terkadang sosok itu berdiri di depan pagar, di samping pohon, lalu menghilang begitu saja dan muncul di atas ranting pohon sambil mengayunkan kakinya. Seringkali terlihat bayangan yang berjalan begitu cepat, lalu menghilang dan muncul kembali di titik lain. Dan yang paling lazim, setiap malam selalu terdengar suara mesin jahit bekerja dari dalam bekas kantor pos itu.

Cerita itu hanya membuatku tersenyum. Saat ini, aku tidak perduli dengan ketakutan orang-orang. Aku hanya ingin hidup tenang dan menyelesaikan kancing baju cucuku yang lupa kujahit kemarin. Mengapa harus ada yang terganggu, bukankan ini adalah rumahku?

Kantor Kabar Madura, 12 Februari 2020