Apakah
betul setiap tulisan, sebegitu objektifpun ia, tetaplah merupakah subjektivitas
penulisnya? Seperti kata Goenawan Mohammad, bahwa setiap tulisan yang telah
rampung, sudah menjadi kosakata penulisny, sekalipun ada kesamaan, meskipun ada
kemiripan dengan tulisan sebelum-sebelumnya.
Dalam menulis
apapun, termasuk esai, subjektivitas penulis tidak bisa dihilangkan. Setiap penulis
tentu selalu dituntun oleh pengetahuan yang dihasilkan dari membaca dan
berdiskusi. Pergumulan tersebut, sebetulnya menjadi bagian dari bagaimana menghadirkan
tulisan yang objektif.
Akan tetapi,
kebebasan menerjemahkan, mengambil sudut pandang, lalu melihat fenomena dari
titik yang varian, merupakan bagian-bagian dari subjektivitas penulis. Subjektivitas
penulis selalu membedakan setiap pengertian atas kejadian satu dan kejadian
yang lain, gagasan dari sudut pandang satu dan sudut pandang yang lain. Meskipun kejadian itu bertopik sama, dan seragam. Tetapi kerangka berpikirnya tentu bisa sangat berbeda.
Kebolehan subjektivitas
penulis, di dalam mengolah data, justru sangat dianjurkan dalam penulisan esai.
Seperti seorang koki handal yang memiliki bahan terbatas tetapi haruslah dituntut mampu
“mengolah” dan menghidangkan masakan yang enak. Seperti istilah "Esai yang bagus adalah yang sederhana, dengan bahasa yang mudah
dimengerti dan tidak bertele-tele" atau "Esai yang bagus adalah yang memiliki impact dan pengaruh yang konkrit bagi masyarakat", dua kalimat itu, menunjukkan betapa seseorang bebas dalam memandang esai.
Maksud dari
istilah objektif dan tidaknya, yakni ditentukan oleh sejauh mana porsi akal sehat berbicara. How common sense speaks?
Bukan karena asal usulnya yang dipengaruhi identitas personal atau kelompoknya (sosial, agama, politik dan
ras), Bukan disebabkan itulah kebenaran harus memihak, kebenaran harus selalu condong terhadapnya. Suatu tulisan justru hilang keobjektivikannya,
ketika yang menopang adalah identitas atribut, bukan akal sehat (common sense) atau pengetahuan yang
absah.
Kemudian,
tentu setiap diskusi seputar keabsahan pengetahuan sering kali muncul:
bagaimana di dalam meyakini suatu pengetahuan yang benar-benar absah atau benar-benar
“benar”? ya seperti cara filsafat bekerja, bahwa ragukanlah setiap apapun yang
ada, supaya kau menjadi lebih yakin! meskipun terkadang menjadi simalakama bagi orang-orang.
Maka disinilah,
dengan pernyataan yang cukup klise, bahwa sebuah pengetahuan yang benar-benar absah
tidak ditemukan pasti. Objektivitas suatu tulisan, selalu dihasilkan oleh
subjektivitas setiap penulis dalam membangun narasinya sendiri, melalui terjemahannya sendiri. Menghadirkan semiotik
dan interpretasi. Bukan memutus dan menentukan kebenaran absah tadi. Lagipula, siapa pemutus
kebenaran absah itu, selain nabi?
Sehingga keyakinan lain yang mesti dimunculkan, bahwa setiap
pengetahuan selalu bersifat tumpang tindih berbanding lurus dengan peristiwa. Selalu
ada yang baru, dan yang usang boleh ditinggalkan. Maka baik pengetahuan dan
peristiwa, sangatlah bebas diterjemahkan oleh penulis ke dalam esainya, tanpa
harus dipengaruhi oleh identitas personal atau kelompok.
Terimakasih
Kantor
Kabar Madura, 29 Januari 2020

0 Comments