Suatu hari,
di bawah pohon sawo kecik, tempat biasa aku bermain seusai sekolah, tiba-tiba,
dari balik pohon itu, munculah sosok siluet hitam besar berambut gondrong.
Kedua mata dan hidungnya tak tampak, hanya berupa tonjolan dan berwarna merah
menyala. Ia melambaikan tangannya yang sangat besar itu pelan-pelan ke arahku.
Seperti seseorang yang mengajak bermain bola kasti dan menyimpan permen di
balik punggungnya.
Sejak saat
itulah aku lenyap dari pelukan ibu.
****
Aku pikir
aku sudah mati. Berada di suatu tempat, untuk kemudian diadili. Apakah aku
termasuk manusia yang sering melakukan hal tercela. Maka di nerakalah tempat
bagi pendosa tinggal. Atau aku telah berhasil menjadi manusia yang terpuji, dan
surgalah tempat bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Seperti yang kudengar
dari ustad di surau-surau. Akan tetapi, aku tidak berada di dunia yang mereka khotbahkan
itu. Atau mereka saja yang belum tahu.
Di tempat
ini semuanya serba gelap. Hitam. Segala sesuatunya, hanya bisa dilihat berdasarkan
bentuk dan baunya. Dunia gelap itu membuatku harus beradaptasi. Sesuatu tidak
bisa dilihat oleh mata, sehingga harus diraba atau bahkan dicium.
Dunia hitam
ini, memang tidak seperti duniaku sebelumnya. Aku tidak perlu mengikuti semua
tugas dan kewajiban-kewajiban. Tidak perlu belajar, mengerjakan PR, atau harus
dihukum karena terlambat mengaji.
Aku tidak akan pernah terlambat dalam hal
apapun, karena aku perlu untuk melakukan apapun. Aku tidak perlu mencuci baju,
karena aku tidak berpakaian apapun. Aku bahkan tidak tahu wajahku seperti apa. Yang
bisa kulakukan hanyalah diam, meraba sesuatu, lalu menciumnya.
Tiba-tiba,
seperti ada yang berkelabat di depan wajah. Ada hawa hangat, seperti ketika temanmu duduk
di sampingmu. Aku mecoba merabanya. Siapa tahu nasib kita sama. Kuraba dari
bawah, dari tanah, pelan-pelan, seperi cara orang buta yang sedang mencari
jarum jahitnya yang jatuh. Lalu tanganku menyentuh benda lengket, sedikit
encer, seperti bubur. Kucium benda itu. Busuk sekali seperti tahi. Aku merasa
itu tahi memang. Aku begitu yakin, meski seumur hidup aku tidak pernah
memegangnya. Dan baru aku tahu, bahwa aku tidak bisa berteriak. Mulutku seperti
terkunci. Tahi-tahi itu masih melengket di sela-sela jariku.
Kemudian
aku berdiri. Bukan karena ingin berdiri, tetapi ada orang yang membimbing tubuhku,
memegang tanganku, dan mengajakku ke suatu tempat. Aku berjalan. Menginjak
daun-daun, bebatuan dan kadang tersandung ranting hingga hampir terjatuh.
Tanganku dipegang erat oleh entah siapa. Tangan itu begitu dingin.
Tiba-tiba
terhenti. Aku masih berdiri, dan kudengar gemericik air. Seperti bunyi air
terjun yang cukup tinggi. Cukup Deras. Sempat kuberpikir, barangkali ini waktuku
mandi. Tapi untuk apa. Seperti di waktu pagi ibu menggendongku ke sungai,
memaksaku menyentuh air segar, karena aku harus sekolah, bertemu guru dan
teman-teman. Sedangkan disini aku tidak perlu melakukan apapun. Memang benar, hawa
dingin itu sepertinya cukup menyegarkan.
Tetapi, ada
hal yang tidak asing. Bau airnya ternyata busuk, lebih busuk dari tahi di sela
tanganku. Ia seperti bekas air yang dipakai mencuci piring. Aku hafal bau itu.
Setiap kali ada hajat di rumah, pasti bau itu mengendap ke hidup dari balik
dapur, dari balik tumpukkan piring. Kini, bau menyengat yang membuat hidung gatal
itu ada di depanku. Oh Tuhan. Jangan sampai aku mandi dengan air comberan busuk
ini.
Tangan itu
menyentuhku, membimbingku, dan ia pelan-pelan menyiram tubuhku dengan air busuk
itu. Aku ingin muntah. Menyumbat hidungpun percuma. Bau itu seperti menjalar
melewati setiap aliran dari, dari ubun-ubuh hingga ke jantung. Sepertinya ada
belatung berjalan di kepalaku. Meliuk-meliuk beribuan, seperti menemukan tempat
baru. Campuran tanah kotor yang lengket itu seperti tinta, menempel di rambutku
begitu kental, seperti oli.
Setelah aku
mandi dengan air comberan yang sangat busuk itu, tanpa perlu handuk, tanpa ada
yang mengelapnya. Aku dituntun kembali ke tempat muasal. Melewati jalan setapak
yang sama. Daun-daun yang sama, bebatuan yang sama dan kadang tersandung ranting
yang sama hingga hampir terjatuh kembali. Aku menangis dalam kelam. Dalam gelap
yang tidak tahu kapan selesai. Dalam batinku, kuteringat nama ibu.
Apakah ia
mengingatku?
Aku
dituntun duduk. Duduk di atas batu besar. Sepertinya, batu besar itu cukup
menampung enam orang saking lebarnya. Seperti ada banyak orang-orang disini. Berdesak-desakan.
Menanti sesuatu untuk dibagi. Aku merasa seperti keluarga baru bagi mereka.
Atau memang aku adalah keluarga mereka, yang baru saja kembali ke tempat
asalnya. Begitu menyenangkan bukan ketika salah satu keluarga kita kembali. Seperti
orang yang bertahun-tahun tidak pulang, akan selalu dirayakan untuk mengobati
rindu yang tak tertunai.
Lalu,
setelah beberapa hening lewat tanpa pepatah kata. Akhirnya desakan itu
menggeliat. Aku seperti diambang angin yang cukup menghimpit tubuh. Tangan itu
kemudian membimbingku. Tanganku mengambil kayu. Aku memegangnya, tangan gaib
itu seperti mengajarkanku bagaimana cara memegang sendok. Ya
sendok, alat untuk
mengambil makanan.
Ujung kayu yang
pipih itu dipakai untuk menyendok sesuatu dalam wadah yang terbuat dari gentong.
Sesuai firasatku. Hidangan itu bukanlah makanan. Yang mereka maksud makanan, hanyalah cairan amis yang sangat busuk. Bahkan jauh lebih busuk dari pada
tahi dan comberan. Getah dan nanah yang barusaja dididih. Busuk, panas
dan amis. Aku memakan itu. Tidak memiliki keberdayaan menolaknya. Bau yang
begitu menyengat, membuat kerongkongan kecut. Ludah mengering. Dan lambung yang
ingin memuntahkan isinya. Nanah itu masuk, mulutku menerima dengan wajah yang
parit, seperti sedang meminum obat dengan air jamu. Masuk ke kerongkongan.
Pahit yang hangat.
***
Keeseokan
harinya, aku bangun dari tidur yang sakit. Aku tidur di bawah pohon kecik.
Ibuku menemukanmu dalam posisi terbalik. Tangan yang penuh tahi, Rambut yang
hitam bau comberan, dan mulut yang amis bau nanah. Sembari ibu meminta maaf dan memelukku, dia
berkata “bapakmu merindukanmu, nak!”
Kantor Kabar Madura, 27 Januari 2020

0 Comments