
Seseorang, yang mengaku dirinya gemar menulis, setengah curhat setengah cari tahu, upaya menemukan ide. Saya sebagai pendengar, yang berusaha baik, tentu berkata "Ya... dicari!" Raut wajahnya menyembunyikan ketidakpuasan. Atau lebih terlihat sia-sia.
Saya pun begitu. Seseorang yang membutuhkan ide, adalah hampir semua orang. Bukan hanya saya, termasuk bukan hanya teman saya. Mungkin Anda, seorang petani, guru, DPR, barista, layouter, penulis, pengusaha termasuk ibu dan bapak di rumah. Karena ide, bagi saya, adalah buah dari pikiran. Dan semua orang, yang merasa waras, tentulah hidup dan tidak boleh menonaktifkan pikirannya.
Meskipun jawaban saya, dirasa kurang membantu, saya pikir, bertanya kepada siapapun, jawabannya tidak jauh dari itu. Bahwa ide harus dicari. Dan, mungkin, yang teman saya tidak tahu, bahwa yang mencari ide, bukan hanya penulis saja. Tapi semua profesi.
Bagaimana seorang petani bisa memulai dan mengakhiri pertaniannya dengan buah menghasilkan. Baik kualitasnya maupun timbal balik finansial. Atau seorang politisi, yang empat bulan lagi mencalonkan dirinya, harus menyiapkan beberapa strategi dan promosi kampanye yang bagaimana. Pun juga penulis, yang semisal, ingin menerbitkan sebuah novel yang bagaimana, tempatnya dimana, seperti apa kebudayaannya, alur atau bahkan keunikan tokohnya apa. Itu bagian-bagian dari membangun ide. Dan, memang tidak semudah prosesnya.
Ide, seperti hal-hal yang kasat dari sesuatu yang nyata. Ide, sesuatu yang dicari dibalik keindahan mata. Seperti desain kafe. Perumahan mewah. Karya puisi yang mengaduk-aduk. Lagu, yang sangat bisa membuat mata lelap. Lukisan yang lebih mahal dari harga rumah. Termasuk bagaimana teknologi berinovasi. Itu ide dan mereka dicari.
Ide lahir jika benar-benar dicari: spekulasi. Dalam rangka memenuhi kehidupan yang tidak menentu ini, kadang ide lahir jika hati kita jernih. Mula-mula, seorang sah-sah saja, jika membedakan hati dan akal (karena akalah yang melahirkan ide, semisal). Tapi, saya justru tidak membatasi kinerja hati. Bahwa hati bisa melahirkan ide, bahkan lebih kuat dari akal sekalipun (pernyataan saya, berusaha tidak mengabaikan bagaimana sufisme hidup di masanya)
Lalu, di luar obrolan saya dan teman saya yang penulis tadi, bagaimana ide-ide yang lahir tapi menghancurkan kita. Seperti koruptor? (karena saya tidak tahu mencari contoh orang penuh ide tapi membahayakan). Atau, ide yang melahirkan senjata namun untuk menghancurkan manusia? Atau pula, ide berupa kreativitas narkoba, atau jualan organ tubuh versi online? Apakah itu tidak terdengar sebagai ide. Yang secara tegas saya katakan, berseberangan dengan naluri kemanusiaan.
Mungkin lebih baik ide dicari dengan tidak dipikirkan. Tapi direnungi!
Saya menyesal telah berkata demikian kepada temanku kemarin malam soal ide tadi. Selain karena saya tidak membawa uang dan dia yang membayar pesanan kita, saya telah sedikit membuat pertanyaannya seperti kurang penting. Padahal jika saya berkesempatan bertemu lagi, saya akan menjawab bahwa ide itu selain harus dicari, bahwa penting dipertanyakan akan tetapi, "sesekali pakai hati!"
Loka Coffee 8 Desember 2019
0 Comments