Suatu penampakan, pengalaman dan kejadian di atas mata telanjang manusia. Lalu ia dituturkan, disemboyankan menjadi ilmu pengetahuan yang teruji (mitos tidak termasuk disini, karena tak dapat diuji), merupakan sebuah siklus wajar di lingkungan kita. Yang tumpang-tindih menjadi dinamika kehidupan.
Semua kita semisal, percaya bahwa harta bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi dapat pula menimbulkan percikan permusuhan antar saudara. Atau, orang bisa saja yakin, bahwa genangan sampah di sungai bukan hanya persoalan banjir, tapi berkembangbiaknya segala jenis penyakit menular. Ataupun, sebuah musik bukan hanya untuk didengar, tapi sebagai pelengkap saja, seperti kebanyakan musik yang diputar di kafe-kafe.
Hal-hal itu. Dugaan-dugaan itu. Atau, pengetahuan sederhana itu, sebelum diuji oleh salah satu disiplin ilmu pengetahuan, alasan yang pertama tiada lain tiada bukan karena orang-orang mengalami, merasakan, lalu mereka memiliki keberanian yang kuat untuk menyimpulkan, untuk kemudian mereka tuturkan ke sanak keluarga dan tetangga-tetangganya.
Catatan ini, meskipun saya bukan golongan Husserlian, dalam ilmu filsafat disebut madzhab fenomenologis. Studi yang mengarah kepada analisis kondisi kemungkinan intensionalitas, latar belakang antar praktik sosial, dan analisis kebahasaan. Seperti kau tahu akibat apa yang kau alami. Atau, kau bisa menebak jika hari ini hujan, bagaimana kondisi tembakau di ladang.
Masih dalam pembicaraan yang sama, bahwa pengalaman, sebagai sumbu terbitnya disiplin keilmuan. Ia seperti bagaimana pengetahuan baru menyembunyikan (lebih tepatnya menenggelamkan) pengetahuan sebelumnya.
Saya sering melihat inovasi kecanggihan teknologi hari ini beserta alasan mengapa ia muncul.
Barangkali benar, saya lebih suka jika headset itu tanpa kabel. Karena bisa saja, kabel itu selain membuat susah jika sudah berantakan, tak sedap pula dipandang. Melilit kesana kemari, dan kadang menyengat jika ada kabel tanpa baju. Atau gelas beling di kafe-kafe sudah mulai diganti dengan gelas plastik, supaya selain tidak mudah pecah, lebih murah barakali biaya kulakan (padahal semua tahu, bahwa sampah plastik sudah mengepung negara ini, masih saja dipakai). Pun juga, yang namanya kebutuhan selain semakin banyak tapi juga dituntut harus cepat. Hingga mendadak semuanya serba elektronik. E-commerce, e-library, e-market, e-campus dan 'e-e' lain yang itu dirancang agar pengalaman manusia kedepan semakin simpel.
Secara fenomenologis, catatan ini cukup membantu. Pertama, orang-orang pintar dalam menganalisis kondisi sosial, diajak untuk mencari pola baru, mekanisme baru, tata-tata cara baru, demi 'pengalaman' tersebut dan demi mempersempit waktu (baca:efisensi).
Lalu bagaimana, jika sebuah pengalaman itu berhenti sebagai pengalaman saja. Bagaimana jika yang kita lihat hanya berhenti pada pandangan semu belaka. Tidak ada pelajaran apalagi kritikal thinking. Tidak ada inovasi dan flashback. Karena saya meyakini, bahwa tidak setiap pengalaman adalah baik, bahkan cenderung jahat di kebanyakan hal di muka bumi ini. Sehingga, tidakkah pengalaman itu dicari solusi untuk tak diulangi, semisal. Seperti, inovasi memperkecil tingkat korupsi dengan memberlakukan hukuman mati kepada koruptor (karena saya susah mencari pengalaman lain yang sangat berbahaya selain koruptor)
Disini, di ruang dimana, akibat arus globalisasi, saya belajar dari pengalaman menulis di kertas, kemudian menulis di gadget (sudah mengetik, bukan menulis lagi) buah dari bagaimana fenomenologis bekerja. Dan, tentu, tanggungjawab sebagai korban globalisasi, ada di setiap penumpang. Usut-usut, pidana UU ITE sudah jelas dipalu. Apa masih ada inovasi lain?
Loka, 13 Desember 2019

0 Comments