
Makanya, aku percaya bahwa, katanya bersyukur mampu menghilangkan keputusasaan. Dan kepercayaanku yang lain, ialah bagaimana susahnya bersyukur itu. Sekadar berterima kasih kepada orang atau Tuhan yang, katanya pula, memberikan anugerah di setiap kehidupan kita yang masing-masing ini.
Masing-masing. Kita, orang lain, tetangga, dan juga bapak dan ibu di rumah, masih mengepal keyakinan itu. Diajarkan oleh agama dan disenandungkan oleh lagu serta sebagian diserukan oleh pendidikan: bersyukur (berterimakasih).
Tanpa bermaksud apapun, aku sepakat bahwa bersyukur itu memiliki varian cara. Tidak tunggal. Orang bisa melakukan itu dan tidak sama dengan cara orang lain. Tidak ada tuntutan untuk seragam.
Misalnya, rasa syukur atau berterimakasih diungkapkan dengan hidup sederhana. Memakai apa yang bisa dipakai. Belanja apa yang sudah habis. Tidak yang glamor dan barbar. Memakai apa dan adanya. Tidak berlebihan. Tidak menempatkan tempat di tempat yang lain. Semua ada tempatnya dan setiap tempat ada fungsinya.
Atau, orang lain menganggap sebuah bentuk terimakasih, ketika dia bisa membahagiakan orang lain. Memberi sebagian waktu dan harta kepada yang lebih butuh (banyak sekali anak yatim dan panti jompo). Memberi buku atau traktir sepotong kue bagi yang ulang tahun. Mungkin juga menjepitkan dua puluh ribu setelah usai shalat jumat ke lubang kotak amal.
Atau mungkin juga, seorang merasa dirinya bersyukur ketika dia sudah tidak menginginkan apapun di kehidupannya. Hidup baginya adalah tidak menginginkan apapun di dunia ini. Ya namanya hidup ya memang "begini-begitu" saja. Tidak yang ingin kaya, tidak yang ingin terlihat lebih tampan atau cantik, tidak yang ingin selalu keren atau macho (karena yang ingin kaya kadang harus menyingkirkan yang miskin dulu). Apakah ini terdengar sebagai rasa syukur bagi kalian?
Aku kembali topik kehidupan yang begini-begini lagi. Harus memilih jalan bersyukur yang bagaimana, itu masih dalam tanda tanya melingkar. Pasalnya, kadang di luar sana lebih menyeramkan dari tempat tidur. Lingkungan mengajarkan saling sikut antar bahu. Adu kepala. Saling hantam dan remuk-remukan. Hujat sana-sini. Ribut antar golongan. Seperti mengejar hal-hal ketidakcukupan. Atau ketidakcukupan membuat demikian. Bukankah, yang kutau, memang tidak ada yang cukup di dunia ini (meskipun makna cukup yang sebenarnya sama peliknya dengan makna kebenaran)
Bagaimana seorang tidak bingung dalam urusan berterimakasih saja. Berterimakasih atas apa? Apa yang telah diperoleh? Atas kemenangan dari kekalahan siapa? hanya untuk menang-menangan, saja?
Di luar pertanyaan itu, aku masih mencari tahu cara melawan keputusasaan versi lain.
Mark Us, 06 Desember 2019
0 Comments