Satu - Kursi dan bangku itu masih tetap pada tempatnya. Menghadap satu sama lain, manis dengan satu asbak berwarna menyala. Pemandangan getir itu, membuat aku semakin percaya bahwa setiap benda mampu menangkap makna. Setiap benda itu sama. Apakah bernyawa atau tidak, apakah diam atau bergerak. Ia memotret apa yang selama ini terjadi. Seperti sebuah memori yang menyimpan dua atau empat ratus kenangan. Dan seperti kenangan yang selalu ingin diingat atau dijauhi.

Kenangan bisa terjadi dimana saja, termasuk di kursi kayu ini. Mereka bergelatakan tak rapi, ketidakrapiannya terlihat sebagai sebuah karya seni. Rupanya, cipratan bekas kopi tumpah itu telah lama dan tak hilang-hilang. Di sana pasti tersimpan banyak hal, aku pastikan itu benar. Lihat saja asbak menyala itu! lumut menempel di bawahnya, pertanda umurnya tua, setua isi di dalamnya. Banyak kenangan yang terekam oleh setiap detik peristiwa di sekelilingnya. Di toples itu, cangkir merah tadi, dinding bahkan, termasuk serat-serat kayu yang indah di daun-daun pintu disana. Mereka menyimpan kenangan-kenangan yang bisa saja lebih indah, lebih berarti dan lebih jujur dari kenangan manusia yang memiliki akal, sekalipun!


Kemudian aku menaruh kecurigaan kepada Protozoa-protozoa yang tak kasat mata ini. Barangkali mereka bisa membatuku. Saya yakin mereka mencatat sejarah peradaban di atas kehidupannya yang terbuat dari kayu itu, lalu mengendapkannya persis seperti apa yang dilakukan manusia dan mereka tulis dalam bentuk manuskrip. 

Manusia menggambarkan sejarah, peperangan dan penghianatan melalui sebuah catatan, seperti sejarah runtuhnya Kerajaan Konstanti dan Turki Utsmani, atau bahkan peperangan Homs di Suriah yang berhasil dicatat Marie Catherine Colvin, walau akhirnya ia meninggal. Manusia mencatat, supaya semua orang tahu bahwa memang ada sesuatu yang rahasia, propaganda dan manipulasi. Paling tidak dunia memang lebih banyak berisi penderitaan dan penghianatan. Seperti Rumah ini, yang berdiri sejak dulu tpi aku tak bisa mengenali siapa Ibuku. 

Hai, kesini! mendekatklah!
Malam ini aku akan tidur cepat-cepat, karena tepat sebelum ayam berkokok, tepat ketika langit masih sangat pekat, rupanya, salah satu di antara Protozoa itu memanggilku, lalu mengajakku mengenali dunianya di atas kursi kayu itu. Maukah kau ikut? 

Sebentar lagi akan ditemukan banyak kenangan yang berguna. Dan barangkali aku bisa menemukan petunjuk siapa yang dan oleh sebab apa Ibuku terbunuh. Lalu jenis peperangan seburuk apa yang telah menimpa keluargaku?

****