Dalam dunia keilmuan, kita diarahkan memahami bukan sekadar objek, akan tetapi cara bahkan kegunaannya. Terma ini dalam lingkup filsafat disebut ontologis-epistimologis-aksiologis. Pelajaran paling dasar sebagai modal bangunan "keilmuan", sebelum kemudian memahami Sapiens-nya Yuval Noah Harari, semisal.

Karena mau bagaimanapun, PMII merupakan objek, yang menyimpan hakikat (ontologi). PMII  juga memiliki cara, upaya, metode yang diekspresikan dalam bentuk kelembagaan yang  administratif (epistimologi) untuk mencapai tujuan. Baru adalah kegunaan, kontribusi, dampak positif PMII kepada manusia (aksiologi). Artinya jika seorang anggota atau kader dan pemimpin yang pikirannya belum sampai mengarah kepada ketiga hal tersebut, barangkali dunia "keilmuan" PMII perlu dipertajam kembali.

Pentingnya filsafat dalam pergumulan keilmuan bukan sesuatu yang bisa ditawar. Birokrasi, politik, pendidikan, hukum, ekonomi, sosiologi dan yang lainnya, membutuhkan asas-asas filsafati. Ia lahir sebagai kosmologi keilmuan. Filsafat menjadi pondasi dalam hal apapun. Ia membicarakan sesuatu yang abstrak, untuk kemudian menghasilkan sesuatu yang konkrit dan bernilai.

Titik sentral yang harus memiliki keilmuan yang kokoh seputar filsafat terletak pada seorang pemimpin. Plato hidup di masa dimana kekuasaan Athena diperebutkan oleh orang-orang yang tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin. Mereka dianggap tidak memahami filsafat politik. Lalu ia memberi arahan "apa, bagaimana dan untuk apa" suatu kelompok berdiri? Hal-hal semacam itulah mengindikasi bahwa peranan filsafat sangat penting terlebih kepada sosok pemimpin.

Keseimbangan, seperti yang dikemukakan Talcott Parson-struktural fungsionalisme, merupakan poros agar roda sebuah kelompok berjalan. Artinya tugas menjaga keseimbangan mengarah terhadap kelangsungan hidup, citra kelompok dan bahkan hidup yang lebih maju. Keseimbangan melahirkan keadilan, dan ketidakadilan bisa merusak ekosistem, termasuk dalam PMII sekalipun. Seperti yang sudah-sudah.

Ada banyak hal yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan menimbulkan ketidakseimbangan, ketidakadilan.
Yang mesti diingat oleh seorang pemimpin bahwa ia mempunyai kekuasaan sosial, bukan kekuasaan pribadi. Kepentingannya adalah kepentingan bersama. Kita mesti belajar pola kepemimpinan di kerajaan Romawi atau di Indonesia pada masa orde baru. Orang-orang yang tidak sejalan dengan pemimpin akan dibunuh, disiksa, diberikan hukuman mati kepada abdi atau rakyat berdasarkan "kemauan" penguasa. Hal yang tidak manusiawi. Masyarakat tentu tidak setuju, mereka bungkam bukan karena sepakat tetapi karena takut.

Maka sebuah kelompok, perlu dipertanyakan ulang, sejauh mana otoritarian tercium dalam tubuh pemimpin?

Tujuan suatu kelompok berdiri, seperti dalam filsafat politik, Ariestoteles (384-322 SM) menyebut dalam upaya menciptakan kebahagiaan. Sebuah kabahagian yang tentu sangat relatif, tentatif dan debatable. Kebahagiaan dalam urusan berkelompok sangatlah beragam motifnya. Ada seorang yang benar-benar dalam mengemban amanah untuk kemaslahatan, dan tidak jarang dalam upaya meraup keuntungan materiil.

Kita perlu berwaspada, bahwa tidak setiap manusia lahir sebagai manusia. Ada yang lahir lalu berubah menjadi serigala, sebagai Homo Homini Lupus ujar Thommas Hobbes. Ada serigala dan tikus yang ada di Indonesia, bersarang dan mewabah bahkan tidak sedikit lahir dari PMII. Sehingga idealisme dalam "membangun kebahagiaan" tidak boleh runtuh akibat ketakdziman, senioritas atau apapun yang mengatasnamakan takut. Kita jangan takut melawan kebenaran. Karena tidak pernah ada yang murtad marena benar.

Dalam memajukan PMII yang berdikari, kita harus menilai manusia sebagai manusia yang utuh. Menilai manusia dari sudut pandang manusia. Walaupun gesekan politik antar kemahasiswaan bisa mengkaburkan itu. Dan bisa membuat kita dalam menilai sangat subjektif atau bahkan fanatik. Jika ada manusia menjadi manusia baik, kita sebagai manusia yang lain, mengafirmasi kebaikan itu bahkan menirunya. Seperti Nabi Muhammad, The chosen one for the chosen people. Dan sebaliknya, jika ada manusia yang tidak benar, koruptor, otoriter, kita sebagai manusia yang lain, tidak segan-segan melawannya. Itu berlaku kepada siapapun, bendera berwarna apapun, termasuk warna bendera sendiri.

Maka perlu kita mengajukan pertanyaan: bagaimana posisi PMII hari ini?

Mohammad Faiq -
Pengurus Komisariat PMII IAIN Madura
Rumah, 3 November 2019