Saya capek. Saya lelah. Saya letih. Saya butuh istirahat. Sampai kapanpun saya tetap seperti itu.
Saya lemah. Saya rapuh. Saya kerdil. Saya butuh waktu memulihkan. Dan sampai kapanpun saya tetap seperti ini.
Saya kesepian. Saya nestapa. Saya tersungkur. Saya termenung. Dan lagi-lagi sampai kapanpun saya tetap akan seperti itu.
Saya berhenti. Saya keluar. Saya jeda. Saja stagnan. Dan biar sampai kapanpun saya akan tetap begitu.
Saya tidak memiliki apapun. Saya tidak kuasa. Saya tidak berdaya. Saya tidak sanggup. Dan apapun yang terjadi saya akan mempertahankan itu.
Kesedihan adalah saya. Kesepian adalah saya. Ketidakmajuan adalah saya. Kekecewaan adalah saya. Keterpurukan adalah saya dan seperti siapapun tidak ada yang bisa seperti saya.
Cinta... Kutitipkan rindu hanya kepada dedaunan yang sempat embun singgah tepat sebelum kau beranjak dari kasurmu. Lalu kau menyapu halaman dan melihat embun telah lenyap dan tak berjejak.
Cinta... Dunia ini tidak seperti kotak pandora yang melahirkan bunyi dan visual yang indah indah saja. Tapi aku dan duniaku sama. Sama dan sampai seperti apapun tidak ada yang bisa menyamakan aku dengannya. Mati dan sia-sia.
Cinta... kita butuh jarak. Kita lebih membutuhkan jarak. Dan jaraklah yang paling dibutuhkan hari ini, bahkan sampai berada dimanapun tidak ada yang paling diperjuangkan kecuali jarak. Jarak mengajarkan banyak hal. Mengajarkan rindu. Merindukan keramaian.
Begini cinta.. tidak ada yang paling saya butuhkan kecuali kembalinya fana. Mengembalikan fana dan keluar dari hingar-bingar ini, hiruk pikuk ini, kegaduhan ini, butuh waktu dan tenaga. Butuh ruang yang berbeda.
Biarlah suatu waktu, di waktu yang akan datang, dengan waktu yang indahnya melebihi dunia ini, saya
akan kembali dengan cinta yang masih sama. Dan tetap menggebu-gebu. Seperti sedia kala.
Di Dunia yang Kacau, 12. 12. 2121
Saya lemah. Saya rapuh. Saya kerdil. Saya butuh waktu memulihkan. Dan sampai kapanpun saya tetap seperti ini.
Saya kesepian. Saya nestapa. Saya tersungkur. Saya termenung. Dan lagi-lagi sampai kapanpun saya tetap akan seperti itu.
Saya berhenti. Saya keluar. Saya jeda. Saja stagnan. Dan biar sampai kapanpun saya akan tetap begitu.
Saya tidak memiliki apapun. Saya tidak kuasa. Saya tidak berdaya. Saya tidak sanggup. Dan apapun yang terjadi saya akan mempertahankan itu.
Kesedihan adalah saya. Kesepian adalah saya. Ketidakmajuan adalah saya. Kekecewaan adalah saya. Keterpurukan adalah saya dan seperti siapapun tidak ada yang bisa seperti saya.
Cinta... Kutitipkan rindu hanya kepada dedaunan yang sempat embun singgah tepat sebelum kau beranjak dari kasurmu. Lalu kau menyapu halaman dan melihat embun telah lenyap dan tak berjejak.
Cinta... Dunia ini tidak seperti kotak pandora yang melahirkan bunyi dan visual yang indah indah saja. Tapi aku dan duniaku sama. Sama dan sampai seperti apapun tidak ada yang bisa menyamakan aku dengannya. Mati dan sia-sia.
Cinta... kita butuh jarak. Kita lebih membutuhkan jarak. Dan jaraklah yang paling dibutuhkan hari ini, bahkan sampai berada dimanapun tidak ada yang paling diperjuangkan kecuali jarak. Jarak mengajarkan banyak hal. Mengajarkan rindu. Merindukan keramaian.
Begini cinta.. tidak ada yang paling saya butuhkan kecuali kembalinya fana. Mengembalikan fana dan keluar dari hingar-bingar ini, hiruk pikuk ini, kegaduhan ini, butuh waktu dan tenaga. Butuh ruang yang berbeda.
Biarlah suatu waktu, di waktu yang akan datang, dengan waktu yang indahnya melebihi dunia ini, saya
akan kembali dengan cinta yang masih sama. Dan tetap menggebu-gebu. Seperti sedia kala.
Di Dunia yang Kacau, 12. 12. 2121

0 Comments