Kursi itu semakin tua, berderet tidak pernah bosan
di atas keramik malas mereka berdiri.
Menunggu pantat menghujam, 
tempat orang-orang tidak berhasrat.
Kadang manusia duduk. Berciuman,
menggopong tas. Menghitung uang.

Disini kau menemukan kehidupan,
di tengah lampu yang tidak pernah padam
dan tidak dibiarkan terlalu terang.
Seperti bekas klub malam
yang pernah ramai dan menguntungkan.

yang kau sendiri tidak bisa hidup tanpanya
menemani deretan kursi-kursi tua itu.
Sembari memegang erat tamborin,
kau pejamkan mata.
Memeluk kepasrahan

Kabar Madura, 31 November 2019