Aku ceritakan apa yang terjadi setelah kupetik setangkai bunga yang terletak di tengah kebun tak terawat itu.
Mula-mula aku berjalan sambil sesekali memikirkan menu makan malam. Tadi pagi kau bilang, bahwa akan ada dua sahabatmu berkunjung ke rumah, dan kau menyuruhku belanja lalu menghidangkan makanan terenak. Ya sebagai koki murahan yang sesekali diundang menjadi juri lomba memasak, aku belanja. Dan jujur sudah lama aku tidak bermain-main dengan pastel, mencium aroma dapur dan aroma kompor yang khas. Aku memang ingin melakukan itu, sambil mengenakan baju masak, ditemani musik jazz di atas mikerove. Akan tetapi, di tengah perjalanan, di tengah pikiran di antara Ikan Sarden dan Bakso Otak Sapi, aku melihat sebuah sinar kecil dari seberang jalan.Tidak! Barangkali tidak dari seberang jalan mungkin, entah itu aku tidak paham. Terpancar jelas ke langit. Berwarna kuning. Semakin ke atas cahayanya semakin tipis. Cahaya aneh itu membuatku berhenti di tengah jalan, dan menghilangkan menu makan malam seketika.
Sinar itu masih ada, bahkan setelah kesekian kalinya aku kucek mata dengan tangan. Aku berdiri, diam yang tidak sebentar. Memandang berulang kali. Kepalaku yang naik turun. Dari tanah ke tubuh langit di sana. Menanti kapan cahaya itu hilang atau justru, apakah seharusnya aku kesana. Lalu entah mengapa kakiku bergerak, melangkah menuju cahaya yang mataku tak henti berkedip, memperbesar rasa penasaran. Aku berada di tengah penasaran dan rasa takut. Setelah aku berajalan dan tidak tahu sudah berapa lama melangkah, cahaya itu semakin dekat, artinya ia diam di tempat. Seperti menungguku, seperti akan ada sesuatu yang baik terjadi saja, atau mungkin keburukan berawal dari ini.
Di balik pepohonan yang lebat, sebuah tanah yang tidak luas itu memberikan kehangatan tersendiri. Terawat indah dan sangat hijau. Kadang aku berpikir, manusia tidak mungkin ke tengah semak-semak ini untuk merawat kebun itu. Selain karena jauh, untuk apa merawat sesuatu yang tidak bisa dinikmati, yang sangat jauh dari jangkauan orang-orang. Di tengah-tengah kebun itu, setangkai bunga berdiri memancarkan cahaya. Aku tidak habis pikir. Sesekali senyum mengembang. Ada cahaya memancar dari pucuk bunga. Bunga yang indah yang tidak pernah aku kenali itu hanya satu. Aku hidup tiga puluh enam tahun di sini, dan baru kali ini aku tahu ada semak-semak, kebun yang rumputnya bersih, yang di terdapat bunga sangat indah di tengahnya. Dan kini, bunga itu memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Membuat mataku mengerjap-ngerjap menikmati setiap detik keindahan sinar yang tak redup-redup. Aku barukali ini, melihat serpihan cahaya surga di dunia.
Di balik pepohonan yang lebat, sebuah tanah yang tidak luas itu memberikan kehangatan tersendiri. Terawat indah dan sangat hijau. Kadang aku berpikir, manusia tidak mungkin ke tengah semak-semak ini untuk merawat kebun itu. Selain karena jauh, untuk apa merawat sesuatu yang tidak bisa dinikmati, yang sangat jauh dari jangkauan orang-orang. Di tengah-tengah kebun itu, setangkai bunga berdiri memancarkan cahaya. Aku tidak habis pikir. Sesekali senyum mengembang. Ada cahaya memancar dari pucuk bunga. Bunga yang indah yang tidak pernah aku kenali itu hanya satu. Aku hidup tiga puluh enam tahun di sini, dan baru kali ini aku tahu ada semak-semak, kebun yang rumputnya bersih, yang di terdapat bunga sangat indah di tengahnya. Dan kini, bunga itu memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Membuat mataku mengerjap-ngerjap menikmati setiap detik keindahan sinar yang tak redup-redup. Aku barukali ini, melihat serpihan cahaya surga di dunia.
Aku mendekat, menoleh kanan dan kiri, padahal aku tidak sedang dalam sebuah misi pencurian. Aku pikir dengan seyakin-yakinnya, bunga ini juga bukan milik siapa-siapa. Ya, memang sempat terbesit sedikit, jika aku mengambilnya, kemungkinan keesokan harinya akan ada orang tak dikenal berkunjung ke rumah memasang wajah risau "mana bunga yang kau petik kemarin itu?!", pikiran itu memang ada, tapi aku tidak peduli sama sekali. Aku sedang terlena dengan apa yang ada di depan mata.
Bunga itu sungguh indah. Dengan jelas aku melihat setiap kulit bunga yang terdapat tetesan air basah jarang-jarang, seperti embun di waktu subuh. Bunga itu tidak diam. Tangkainya bergoyang-goyang, mulai dari akar, daun hingga kelopak ikut bergoyang seperti cara rumput laut hidup. Di pucuk bunga yang sedikit lebar dan putih itu, cahaya keluar begitu terang. Aku memerhatikan sedetail mungkin, mulai dari mana cahaya itu muncul, hingga aku mendongah ke atas langit. Jauh. Dan semakin ke atas semakin tipis cahaya itu. Aku tidak habis pikir. Siapapun sepakat bahwa cahaya yang terpancar dari ujung bunga adalah hal yang tak biasa.
Bunga itu sungguh indah. Dengan jelas aku melihat setiap kulit bunga yang terdapat tetesan air basah jarang-jarang, seperti embun di waktu subuh. Bunga itu tidak diam. Tangkainya bergoyang-goyang, mulai dari akar, daun hingga kelopak ikut bergoyang seperti cara rumput laut hidup. Di pucuk bunga yang sedikit lebar dan putih itu, cahaya keluar begitu terang. Aku memerhatikan sedetail mungkin, mulai dari mana cahaya itu muncul, hingga aku mendongah ke atas langit. Jauh. Dan semakin ke atas semakin tipis cahaya itu. Aku tidak habis pikir. Siapapun sepakat bahwa cahaya yang terpancar dari ujung bunga adalah hal yang tak biasa.
Jika aku ambil bunga ini, toh orang tidak akan tahu. Lalu memangnya mengapa jika orang tahu. Dimana saja orang bebas mengambil bunga, dan orang-orang tidak akan heran melihat orang lain mencium atau bahkan memetik bunga. Tapi bagaimana jika bunganya tidak seperti bunga biasa. Seperti yang ada di depanku ini misalkan, tangkai yang daunnya tiga, setinggi setengah meter dan, yang ajaib, ujungnya memancarkan cahaya kuning ke langit, ke suatu tempat yang bisa dilihat orang lain bahkan dari tempat tidurnya.
Oke aku bergeming
Aku petik tangkai itu, aku simpan di balik baju. Dan betapa aku sumringah, cahaya itu menembus baju dan tubuhku bersinar seperti robot jepang.
0 Comments