Ada belati menancap di bagian ulu hati. Menyayat-nyayat memaksa merobek setiap lipatan daging, kulit dan meremukkan tulang-tulang di bagian rongga kiri dada. Hingga membuat dahi mengerut kesakitan, menbuat tangan yang menekan dada kuat-kuat dan hilanglah segala kebahagiaan. Yang ada hanyalah penderitaan dan kehidupan yang semakin gelap gulita.
Simah menjerit kencang se kencang-kencangnya setelah Surati meninggalkannya dalam kondisi buta. Mengapa seorang anak yang sudah bersuami dan beranak, meninggalkan ibunya yang sudah renta dan memilih pergi bersama kekasih barunya.
Suharto, adik Surati dan anak Simah hari itu memilih pulang meninggalkan sayuran, ikan, kropok dan bahkan seperanya di pinggir jalan. Ia pulang dan rumahnya sudah dikerumuni orang-orang, pertanda hilangnya Surati adalah mala petaka, apalagi ia menghilang tidak sendirian, tapi bersama Abang, gundik barunya yang berasal dari Ambon.
0 Comments