Titik adalah awal mula sesuatu terjadi. Sebuah rasa dibangun dari titik, menjadi garis, lalu membentuk menjadi kasih dalam kisah-kisahmu. Lalu ia menjadi manis, indah dan jumawa. Yang manis mendekap begitu lama, dalam dan menyatu. Lalu kemudian, segelumit masalah datang. Dalam waktu yang singkat, rasa itu menjadi hitam, dan titik itu, pun menghilang. 

Dalam cerita-cerita, lumrahnya sebuah rasa diakhiri dengan pelukan dan cincin di tangan. Itu mengapa cerita kemudian membentuk cara kita berpikir dan bercinta. Walaupun cerita tidak pernah dinamis. Ia ada dalam rangkuman titik awal dan titik akhir. Ia tidak menjadi representasi kehidupan.. Sedangkan di kehidupan yang nyata, segala sesuatu bermula dari titik awal dan tidak ada titik akhir yang disepakati. 

Tidak ada ceritanya sebuah kebencian akan berakhir sia-sia. Sebuah titik yang menghilang, mengajarkan seseorang harus melihat dunia lebih luas lagi. Kau harus mendengus ulang bau tubuhmu, sebelum kau kecup malam menjadi gumpalan lumpur. Dan waktunya menyingkirkan, bahwa rasa hanyalah bagian kecil dari kosmologi kehidupan. Bila kau berhasil menebarkan kebencian, maka kau biarkan titik itu berada pada garis yang benar.

Sesuatu sangat mungkin terjadi, bahkan untuk memulai titik baru, untuk jalinan baru. Lalu kau akan merangkai ulang titik pertama. Persis seperti yang kau lakukan silam, menitipkan rasa rindu di malam yang suram. Dan kau harus tahu, bahwa kau tak bisa mengembalikan titik. Yang kau bisa hanyalah menular kebencian. 

Sebuah rasa yang tandus, akan menjadi muara dimana kebencian muncul berbondong-bondong. Kebencian pun menular. Bahkan untuk sesuatu yang tak terlihat seperti sebuah perasaan. Cerita dalam kisah-kisah tidak mengingatkan itu. Yang mereka ingatkan hanyalah sesuatu yang indah. Padahal keindahan bukanlah suatu alasan mengapa rasa bisa terjalin. Keindahan hanyalah bagian kecil mengapa manusia hidup. Sedangkan sisanya adalah penderitaan, kekecewaan dan kebencian yang harus kita terima.

Rasa adalah ketika kau pergi, lalu air mata ini mengikutimu hingga membengkak. Rasa adalah ketika kau pergi, lalu segudang ingatan muncul menyesakkan kepala ini. Rasa adalah suatu titik kecil, lalu berkembang, dan berhasil membangun rumah, dengan jendela dan vas bunga yang indah, lalu salah satu dari kita memecahkan kaca-kaca, dan membiarkan serigala menghuninya. 

Kantor Madura United, 06 September 2019