Jika kupandangi sungai yang diam, kadang kutemukan wajahmu samar-samar di sana. Kau tersenyum, lalu kau menghilang. Aku bersedih. Mengapa kau muncul saat sungai sendirian. Dan tidak muncul lagi untuk selamanya.

Kubakar kayu menjadikan api unggun yang besar, pelan-pelan kudengar suaramu menyanyi-nyanyi bagaikan di sebuah malam acara perkemahan. Hingga cahaya api memecah malam, dan suaramu mengisi rindu ini.

Lalu orang memanggilku gila. Karena sering tersenyum diri di pinggir sungai, dan membakar kayu malam-malam sendirian. Padahal orang tidak pernah tau, bahwa di sana ada wajah dan suaramu.

Lalu kenyataan itu berubah. Kau tak lagi menungguku di bawah sungai dan di balik api menyala. Setelah orang lain yakin aku gila, kau menghilang entah kemana. Di sungai itu, tak ada sesuatu kecuali ikan kecil-kecil berenang menatapku iba. Di balik api itu pun, tak ada suara terdengar kecuali semilir angin memandangku nestapa.

Lalu aku mencoba mencarimu di benda yang lain. Siapa tahu wajahmu aku temukan tidak di sungai, tapi di got atau di sumur tetangga. Atau barangkali bukan di balik api unggun suaramu bisa kudengar, tapi dibalik korek api, atau api kompor dapur tetangga.

Akhirnya aku tidak ke sungai dan membakar kayu lagi.

Hampir dua tahun ini, orang menganggapku tidak ada. Orang bilang aku gila, tidak waras dan tidak sadar. Meskipun sebenarnya aku tidak gila, waras dan sadar. Aku sadar bahwa mereka menganggapku gila. 

Dengan segala upaya, ingin kutemukan kau agar rindu ini terobati, maka aku memilih menjadi gila.

SMPN 1 Pamekasan, 16 Agustus 2019