Adanya fantasi pada dasarnya membuka pikiran untuk tidak hidup di posisi yang aman. Di luar sana, memang posisi aman telah merimpah ruah bagaikan origami-origami yang terbuat dari kertas bekas. Dan kita mengabaikan itu, dan menganggap sesuatu yang ganjil adalah bagian dari kelestarian hidup.

Di udara yang malas, kota-kota berdiri sebagai bangunan yang didalamnya dibangun banyak fantasi. Fantasi itu lahir dari Soekarno dan rekan-rekan yang sama-sama gugur di medan pertempuran. Hingga kini, fantasi itu telah membentuk kita, membentuk negeri, bahasa, budaya dan membentuk fantasi-fantasi baru. Menjadi keharusan kita untuk memelihara keguyuban pertiwi.

Seandainya, fantasi itu tidak diciptakan oleh mereka dan memilih hidup di posisi aman, maka nama Indonesia tak akan muncul dan kita tidak menemukan kehidupan. Yang lebih penting disini, bahwa fantasi menciptakan kehidupan. Ia adalah merupakan simultan antara tragedi dan masterplan. Seperti wajah Jerman oleh Nazi atau Johannes Gutenberg dan penemuannya, yang keduanya memiliki sebuah misi dengan fantasi yang berbeda.

Setelah itu, kita tarik bagian nihilnya, seperti sesuatu yang ironi terjadi di masa kita. Dengan nilai fantasi yang rendah, dan harapan yang tentu tinggi.

Kita bagian dari penerus rajutan yang belum rampung. Ketinggalan itu, bukan hanya persoalan bagaimana seseoarng mampu mengimajinasikan (menciptakan fantasi) sesuatu, tapi kelemahan yang lebih besar adalah ketidakmampuan menyeimbangi imajinasi negara lain. Kita adalah peserta dengan start nomor terakhir di kejuaraan marathon.

Dibalik kosa kata fantasi yang terurai, ada makna harapan yang dalam dan itu dirasakan betul gairahnya. Harapan menjadi kunci setelah kau berpeluh sedih terlebih dahulu. Saat ini, kita bisa menjejer lewat status di sosial media, bahwa hampir saja, antara harapan dan keluhan pelik dibedakan. Sesuatu yang sudah blummer, dan pameran itu menunjukkan sebuah effortless. Itu pertanda, kita bermain di fantasi para sesepuh, dan kita tidak mempunyai kemampuan mengupgradenya.

Kantor Kabar Madura, 11 Agustus 2019