Kita berdua di tepian pantai, di gigi
laut yang hening bersama jingga di waktu sore. Melempar-lemparkan batu dan
genting, memecah kedamaian laut yang mulai pekat. Hingga kita terlelap, dan
ingin tertidur di pelukan malam.
Malam kemudian menyaksikan kita
diam-diam saja. Kita berada di antara mereka, dan tak ada yang ingin berucap
satu katapun. Hingga bintang-bintang muncul mencoba menyinari kegelapan di
antara kita berdua. Hingga angin bernyanyi dengan syahdunya, berusaha menghibur
kegelisahan di antara kita saja.
Lalu bulan melayang begitu cepat. Dari
ufuk timur menuju lautan hening, teburan bintang serta nyanyian angin yang riang.
Rembulan temaram itu sengaja berhenti di atas kita, menunjukan rasa simpati
yang dalam. Mereka selalu berbicara menggunakan bahasanya sendiri.
Dan kita selalu mengerti. Dan kita tetap
diam saja. Kita adalah kesendirian yang nyata. Sembari di sekeliling berbicara,
mereka berusaha menjangkau dan menebak-nebak apa yang sedang kita rasa. Bagaimana
agar sebuah rajutan yang pernah terjalin, tidak putus sia-sia. Walaupun kita
sama-sama tahu bahwa benang itu sudah terlalu kusut, dan rapuh menjuntai
kemana-mana.
Pantai, angin, bintang dan
rembulan. Bagaikan grup orkestra yang melahirkan komposisi harmonik. Mereka seperti
kelompok pramuka yang bekerja sama untuk tujuan yang sama dengan tupoksi yang
berbeda. Mungkin jika aku adalah anak kecil, aku kegirangan seketika, dan
menganggap duduk-duduk atas pasir menonton pasukan itu adalah bagian dari
liburan sekolah. Hingga aku ingin
berlama-lama dan bela-belain membayar demi sesuatu yang lucu.
Tapi duduk bersama seorang yang
pernah bersama kita, dan tak berucap sepatah katapun, tanpa tegur sapa, di
pinggir pantai, di bawah temaram rembulan, dan disiniari bintang-bintang,
adalah sesuatu yang tidak ada lucunya. Sama sekali.
Kabar Madura, 05 Agustus
2019
0 Comments