Banyak pertanyaan diantara sesuatu yang “dianggap
gagal”. Meskipun banyak juga pertanyaan yang tidak layak menjadi senjata dalam
mengurai sesuatu yang “dianggap gagal” itu. Seperti pertanyaan yang berangkat
dari asumsi: “jangan-jangan”. Atau pertanyaan yang bukan untuk mengurai, tapi sengaja
mengadu domba dan provokasi. Itu lebih membahayakan.
Istilah ”Jangan-jangan’ hanya akan muncul bagi orang
yang tidak melakukan kajian terlebih dahulu sebelum memutuskan menilai. Duduk
perkaranya apa, episteminya bagaimana, payung hukumnya berupa apa, dan termasuk
konsekuensi mengurai sesuatu yang “diaggap gagal” tadi itu apa. Maka jika sudah
melewati tahap-tahap itu, istilah “jangan-jangan” bisa terhindari.
Kemaren ada berita menyebar. Cerita mahasiswa dan
kampusnya. Ia berisi soal campakan dan tendangan kampus, hanya karena menyampaikan
sebuah aspirasi. Ibarat ia adalah seorang anak, lalu diusir oleh ayahnya
sendiri karena tidak terima jika aturan uang jajannya dirubah, yang asalnya
satu hari empat ribu menjadi tiga ribu lima ratus. Lalu si anak ini komplain,
dan akhirnya ditendang, dan satu keluarga itupun menjadi viral.
Ya persoalan kampus memang pelik. Sama peliknya dengan
persoalan agama yang dipolitisi. Jangan kaget. Kampuspun mudah dipolitisi.
Adian Husaini menyebut politisasi agama sebagai masa paling suram atau The dark age. Masa dimana ‘kepatuhan’
dan ‘kekuasaan’ menjadi senjata membutakan nalar berpikir sehat. Maka jika
agama mudah dipolitisasi, maka yang lainpun juga mudah, apalagi cuma kampus,
apalagi cuma keluarga, seperti contoh usiran tadi.
Semisal begini, jika di suatu lingkungan terlihat
tidak sehat, baik dari pendidikan atau sosial-politiknya, maka keputusan ‘tidak
sehat’ itu adalah bagian pertama dari mengurai sesuatu yang “dianggap gagal”. Hingga
kemudian muncul bagian-bagian selanjutnya yang masih satu uraian. Muncul pertanyaan
“mengapa itu tak sehat?”, “mengapa pendidikan di kampus kita tidak bersaing
dengan kampus mereka?”. “mengapa seorang mahasiswa tidak bangga dengan kampusnya,
dan lebih bangga dengan kampus mahasiswa lain?”. “mengapa cara kampus
menghadapi aspirasi mahasiswa dengan menscorsing?”. Dan “mengapa-mengapa”
lainnya yang masih satu uraian.
Kenyataan itu, melegitimasi hari yang pilu. The Dark
Age. Lihat saja, banyak sekali “penilaian” mengenai kampus yang tidak
demokratis. Itu bisa kita urut seberapa ramai headline berita yang membahas soal itu. Yang mungkin mahasiswa lain yang tidak ikut-ikutan juga merasa
terganggu. Dan mengeluh “benar yaa, saya lebih bangga kepada kampusmu, bukan
kampusku”. Yang terbesit pertama kali di benak saya justru: mengapa aspirasi
itu tidak ditampung, diolah, dan biarkan terjadi pergumulan paradigmatik disana.
Apa yang memberatkan. Mengapa ia terlalu saklek.
Administratif. Surat. Pemangkasan SKS dan cara-cara lainnya yang hanya bisa dilakukan
oleh pengendali sistem. Iya, itu mengapa. Mengapa mereka begitu.
Jika persoalan itu besar atau dibesar-besarkan, maka yang
terjadi kedepan, lambat laun, tapi pasti, yaitu Pagelaran Kebudayaan Apatis. Tidak
ada mahasiswa yang mau menyampaikan aspirasinya lagi. Tidak ada mahasiswa yang
mau mengkritisi, menginovasi lagi. Mereka memilih diam. Memilh apatis. Kalimat Bodo amat-bodo amat akan mewabah. Hingga
akhirnya tempat itu menjadi pertukaran transaksi iuran yang administratif saja,
bukan transaksi kepedulian pendewasaan kampus. Sudah cukup. Titik!
Kantor KM, 11 Juli 2019

0 Comments