Seni adalah ketika kau berbicara dan tiba-tiba calon
konsumen anda berniat membeli produk kosmetik yang anda tawarkan. Sebagian memang
menggunakan seni untuk berjualan. Atau, seni adalah setelah kau duduk sepanjang
hari di atas skoci kecil, di pinggir laut tenang, sambil memegang pancingan,
menikmati angin sepoi-sepoi, lalu pulang membawa ketenangan walau tak
mendapatkan ikan. Sebagian yang lain, menjadikan seni untuk relaksasi.
Banyak seni
untuk diaplikasikan. Di rumah-rumah, di sekolah, di jalan raya, bahkan di
diskotik dan di toilet pun, seni sering muncul. Ia adalah hidup dan kehidupanpun harus ‘nyeni’,
seperti yang dikatakan oleh salah satu pemateri di pameran seni Artzheimer
semalam.
Ya kemaren Pamekasan-Madura, mengadakan Pameran Ti’titti’
yang diadakan oleh Artzheimer, komunitas pegiat seni. Even yang paling saya
minati ketimbang penyuluhan atau seminar motivasi. Segala macam seni bisa kita
amati lewat pemuda-pemuda di komunitas itu. Lewat cara berpikir mereka. Lewat tiga
kali dua puluh empat jam disana. Sambil memesan kopi, menikmati lukisan, dan
mendengarkan lagu-lagu indie yang melodi biolanya khas sekali. Tentu itu momen
yang rugi jika dilewati.
Pameran adalah cara kita menunjukkan sesuatu, yang
mungkin dirasa perlu dihidupkan, merasa ia tidak diperhatikan oleh sekeliling
kita. Atau, bagaimana kita berusaha untuk menjauhkan orang-orang dari sikap ‘apatis’
tentang hal itu. Tentang seni, tentang musik, tentang budaya, dan
tentang-tentang yang lain agar itu tidak hilang, agar itu datang sebagai
awal perubahan baru. Jadi disini, pameran selalu menjadi uluran tuhan.
Pameran juga menjadi cara kita untuk menampung
orang-orang yang sama dalam titik berjuang, sama dalam pemikiran, sama dalam
pashion, sama dalam banyak hal, yang jika ia dipertemukan, jiwanya
berkecamuk dan hatinya bergumam “oh kau
adalah saudara, jiwa dan darahku”. Seperti pameran seni kemaren. Saya jadi
tau, nuansa ala-ala seniman. Topinya, rambutnya, pakaiannya, dan bahkan selera
humornya. Mereka bersatu berkumpul seperti sebuah reoni yang penuh dengan
linang air mata setelah lama tak bertemu, setelah lama tak bergumul kembali.
Selnjutnya, pameran juga menjadi cara mengapresiasi
sebuah karya. Karya penting untuk diapresiasi. Cara sederhana yang paling bisa
kita lakukan untuk mengapresiasi sebuah karya lewat even pameran adalah: datang
dan perhatikan. Selebihnya, kita bisa mendokumentasikan, meniru pola, mencatatnya,
atau bahkan wawancara kepada si pembuat karya. Syukur-syukur kita termotivasi
untuk mempunyai karya yang dipajang melalui pameran-pameran di waktu lain. Itu tujuan mengapa pameran diadakan.
Yang terakhir, pameran adalah media pembelajaran yang
mutakhir. Di sana, kita tak lagi dihadapkan dengan teori yang rumit seperti Menara
gading lagi, seperti kejenuhan di ruang kelas berukuran tiga kali lima meter
itu. Yang untuk memahaminya, kita harus pakai kamus dan ensiklopedia.
Tapi di
pameran, yang kita lihat adalah output dari pembelajaran. Jika itu adalah
pameran seni, maka yang kita amati adalah hasil seni yang apik. Karena karya yang berhasil dipamerin itu bukanlah karya sembarangan. Jika itu adalah pameran
atau festival adat, maka yang kita lihat adalah testimoni-testimoni keadatan yang
beragam. Yang mungkin jika di sekolah, kita hanya melihat gambarnya atau
mendegarkan ceritanya.
Maka model pembelajaran melalui kontestasi pameran adalah metode baru bagi pendidikan kita. Yaa, sebagian mahasiswa jurusan Tarbiyah berpikir lain : "kayaknya bagus nih untuk dijadikan judul skripsi". :D
Salam Seni dan Budaya!!!
Kantor Kabar Madura, 18 Juli 2019
0 Comments